Makara UI Gelar Halalbihalal 

Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menyelenggarakan kegiatan Majelis Nyala Purnama edisi Halalbihalal. Kegiatan dilaksanakan di selasar gedung Makara Art Center UI, Depok, Jawa Barat, Selasa 7 April 2026.

Kegiatan yang rutin tiap bulan ini merupakan ruang teduh untuk merayakan keberagaman, serta pelestarian nilai-nilai kebudayaan Indonesia dengan menyajikan pertunjukan musik, tari, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, orasi budaya dan ditutup dengan meditasi. Adapun, tema diusung tema: “Jadilah Pemenang, Bukan Penakluk”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para penampil dalam acara ini adalah Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Dr. Ali M. Abdillah, MA., Hendrajit, Fitra Manan, Umam Dante & friends, Srengenge Aryo Segoro, dan Indonesiana Ayuningtyas Wicaksono. Sejumlah tamu turut hadir dalam acara ini, seperti Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr. Untung Yuwono dan Wakil Dekan 2 FIB UI Dr. Lily Tjahjandari.

“Idulfitri adalah momentum kemenangan terhadap nafsu dan diri sendiri sehingga manusia dapat kembali fitri. Kefitrian bisa terkotori oleh ambisi kekuasaan dan nafsu menaklukkan orang lain sehingga tega melalukan intrik, fitnah dan kekerasan. Mari menjaga kemenangan dengan menghindarkan diri dari ambisi menaklukkan”, ujar Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw.

Sementara itu, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan dalam sambutan tertulisnya, menegaskan, kemenangan dalam momen Idulfitri yang baru saja kita rayakan mengingatkan pada satu esensi kehidupan yang penting: jadilah seorang pemenang, bukan sekadar penakluk.

“Jika seorang penakluk merasa bangga karena berhasil menundukkan orang lain atau dunia di sekitarnya demi memuaskan ambisi, maka seorang pemenang sejati merasa bersyukur karena ia berhasil menundukkan hawa nafsu dan egonya sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, mahkota kemenangan di hari yang fitri ini bukanlah tentang seberapa besar kita menguasai apa yang ada di luar sana, melainkan seberapa utuh kita berhasil menguasai diri kita sendiri untuk kembali kepada kesucian hati.

Dalam diskusi kebudayaan yang dipandu oleh Dr. Ngatawi Al Zastrouw ini, Hendrajit sebagai pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute, menyampaikan bahwa makna menjadi pemenang tanpa menaklukkan dari sudut pandang geopolitik penting karena bisa membuat kita peduli pada tiga hal: kenal diri, tahu diri, dan tahu harga diri.

Sementara itu, Dr. Ali M. Abdillah, MA., yang merupakan seorang akademisi, ulama, dan tokoh Nahdlatul Ulama, menjelaskan konteks menjadi pemenang tanpa harus menjadi penakluk dalam persepsi sufi.

Sedangkan, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Untung Yuwono yang hadir dalam acara ini diminta menjadi penanggap dalam diskusi ini. Untung tertarik dengan hadis dari Rasulullah Muhammad SAW yang menyebut tentang tuntutlah ilmu walau harus sampai negeri China.

Dari pengalamannya yang pernah mengunjungi China, ia terkesan dengan karakter bangsa China yang menganggap bangsa lain sebagai insan yang sejajar, dan sifat tersebut tidak ditemuinya dari bangsa Amerika yang sekarang dipimpin Donald Trump. Ia juga berharap bahwa bangs akita saat ini memiliki kepercayaan diri untuk merasa sejajar dengan bangsa lain, tidak perlu menunduk-nunduk pada bangsa lain.

Pada sesi meditasi, Dr. Turita Indah Setyani mengajak hadirin untuk bermeditasi dengan mengaplikasikan apa yang disebut dalam filsafat Jawa “Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” yang berarti berjuang tanpa pasukan dan menang tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan