Membuka Topeng Kemunafikan Kita

Manusia mengubah impotensi mereka menjadi mahkota kesucian. Inilah puncak kemunafikan: ketika si lemah mengaku dirinya bermoral. Padahal, ia sekadar tidak punya cukup nyali untuk menjadi bajingan.

Di sinilah psikoanalisis Jacques Lacan dan pembacaan Slavoj Zizek masuk untuk menampar kita lebih keras. Mereka membongkar bahwa kemunafikan bukan lagi tentang kebohongan personal, melainkan prasyarat untuk menjaga tatanan ilusi agar struktur masyarakat tidak runtuh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Zizek merumuskan fetisisme ideologis ini dengan frasa: “Je sais bien, mais quand meme” (saya tahu betul, tetapi meskipun begitu…).

Kita tahu bahwa sistem politik ini korup.  Kita tahu konstitusi hierarkis dipenuhi kompromi gelap. Kita juga tahu bahwa relasi sosial digerakkan oleh pamrih—tapi kita tetap bertindak seolah-olah semua itu suci dan sakral. Mengapa?

Karena kita tunduk pada The Big Other (Yang Liyan Besar), yakni tatanan simbolik itu sendiri. Jika kita merobek topeng kemunafikan dan mengucapkan kebenaran telanjang di setiap kesempatan, struktur realitas sosial kita akan kolaps hari itu juga. Kemunafikan adalah ritual harian yang kita jalankan bukan karena kita bodoh, tapi karena realitas objektif terlalu traumatis untuk dikunyah.

Lalu tibalah kita di era kiwari, di mana pemikir seperti Jean Baudrillard menyambut kita di padang pasir realitas. Di era simulakra ini, kemunafikan telah mencapai stadium akhir yang paling kelam.

Dulu, orang munafik menyembunyikan wajah aslinya di balik topeng. Hari ini? Tidak ada lagi wajah asli di balik topeng. Topeng itu sendiri menjadi wajah.

Di media sosial, kita mengkonstruksi avatar yang seolah peduli pada lingkungan, empati pada tragedi kemanusiaan, dan menangis demi keadilan. Padahal, motif yang menggerakkanya adalah hasrat untuk divalidasi oleh algoritma.

Kita hidup dalam hyperreality, di mana kepuara-puraan telah menjadi nyata dan lebih berharga daripada kenyataan itu sendiri. Kemunafikan tidak lagi menyembunyikan kebusukan karakter; ia menyembunyikan fakta bahwa dalam diri kita yang terdalam, kita sudah benar-benar kosong. Tidak ada substansi yang tersisa, hanya cangkang-cangkang narsistik yang sibuk memoles citra.

Jika setelah sampai pada titik dekonstruksi ini Anda masih berpegang teguh pada ilusi bahwa ada kemurnian absolut di luar sana, Anda sungguh romantis sekaligus naif. Kebenaran selalu berdarah, dan tidak ada manusia yang tangannya benar-benar bersih. Selama Anda masih hidup, bernapas, bergerak, dan bersosialisasi, Anda akan selalu bernegosiasi dengan kemunafikan. Anda akan tersenyum pada sistem yang menindas Anda, dan Anda akan mengkhotbahkan standar moral yang diam-diam Anda langkahi.

Tinggalkan Balasan