Lantas, apakah tulisan ini adalah seruan untuk menjadi nihilis yang tidak peduli atau bajingan yang bangga akan kejahatannya? Tentu saja bukan. Kesadaran akan kemunafikan justru satu-satunya jalan menuju empati yang tidak merendahkan. Ketika berhasil menelanjangi ilusi kesucian Anda sendiri, ketika berani menerima kengerian bahwa di dalam diri Anda bersemayam potensi keegoisan dan kepalsuan yang sama besarnya dengan musuh-musuh Anda, Anda akan berhenti menghakimi. Anda tidak akan lagi melempar batu ke arah orang lain dengan arogansi seorang malaikat.
Kita semua tengah berenang di selokan yang sama. Satu-satunya perbedaan antara orang suci yang dielu-elukan dan pendosa yang dikutuk hanyalah seberapa tebal meke-up moral yang mereka gunakan dan seberapa jenius mereka menutupi motif aslinya dari sorotan publik. Maka, berhentilah berteriak tentang integritas yang suci hama. Mulailah tersenyum sinis pada lelucon kosmis ini.

Pada akhirnya, pertarungan hidup bukanlah tentang bagaimana menjadi manusia murni, melainkan tentang bagaimana menjadi munafik yang tahu persis kapan harus membuka topengnya saat sendirian, menertawakan absurditas dirinya, lalu memakai kembali besok pagi dengan akting yang jauh lebih brilian.
Daftar Pustaka
Hardiman, F. Budi. Filsafat Fragmentaris: Deskripsi, Kritik, dan Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Bandung: Jalasutra, 2011.
Sartre, Jean-Paul. Eksistensialisme dan Humanisme. Diterjemahkan oleh Yudhi Murtanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Sunardi, St. Nietzsche. Yogyakarta: LKiS, 2001.
Suseno, Franz Magnis. 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani sampai Abad ke-19. Yogyakarta: Kanisius, 1997.
Sumber ilustrasi: versodio.com.
