Walaupun hanya berangkat dari keterpaksaan dan sekadar menuruti perintah orang tua, tapi lama-lama anak-anak itu menjadi akrab dengan welas asih. Dan pelan-pelan welas asih mulai berani masuk dalam relung hati anak-anak, Sesekali menginap di bilik jiwa. Karena sering disinggahi welas asih, lama-lama hati dan jiwa anak-anak yang mulai tumbuh remaja itu menjadi lapang dan tenang hingga akhirnya welas asih pun mulai merasa nyaman di sana.
Tapi beberapa tahun terakhir ini, aku tak lagi melihat wajah welas asih. Sepertinya dia sudah tidak lagi menghuni bilik-bilik hati dan relung-relung jiwa manusia. Di antara bibir yang selalu meneriakkan takbir dan nama Tuhan, aku tak melihat welas asih. Dalam wajah yang berhias ayat suci aku tidak menemukan welas asih di sana. Bahkan, di balik jubah dan gamis aku tak menemukan welas asih. Aku mengira dia bersembunyi di balik cadar dan hijab yang terlihat anggun. Tapi di sana pun aku tak menemukannya.

Aku semakin lelah dan bingung mencari keberadaan welas asih. Dulu dia begitu mudah dicari di tempat-tempat ibadah dan mimbar-mimbar khotbah. Para ulama, habaib, dan kiai tempo dulu selalu memyertakan welas asih dalam dakwah dan khotbah-khotbah mereka. Bahkan saat berdebat dan menghadapi perbedaan pendapat, mereka selalu bersama welas asih. Dakwah dan perdebatan menjadi terasa indah karena keberadaan welas asih.
Ahh… barangkali aku yang buta, yang tidak bisa lagi mihat welas asih. Tapi kalau memang buta dan welas asih masih ada, kenapa orang-orang saling membenci, saling memfitnah, bahkan pada orang yang sudah mati pun mereka tega berbuat nista? Semua jadi berubah setelah hilangnya welas asih. Dakwah dan khotbah yang dulu sejuk dan indah kini jadi garang dan penuh amarah. Aku yakin, kalau saja welas asih masih ada, tentu tak akan terjadi semua ini.
Kucoba bertanya pada anak-anak, di mana welas asih berada? Tapi mereka juga tidak tahu, bahkan banyak di antara mereka yang sudah tidak kenal lagi pada welas asih.
“Emang welas asih itu cantik, ya, Om?” tanya seorang remaja milenial sambil terus menatap layar telepon pintarnya.
“Welas asih itu konglomerat, ya?” sahut yang lain.
