Mencari Welas Asih

“Dia lebih dari itu,” jawabku pada anak-anak itu.

“Wihhh… berarti dia bisa bikin kita kaya, ya, Om?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mendengar tanggapan anak-anak ini aku semakin yakin kalau welas asiih memang sudah menghilang.

Dalam keletihan jiwa mencari welas asih yang makin tak jelas rimbanya, tiba-tiba terdengar suara lembut. Aku kenal betul suara itu, ya suara welas asih yang selama ini kucari.

“Izinkan aku pergi meninggalkan kehidupan kalian. Karena sudah tidak ada tempat lagi untukku. Manusia telah memenuhi hati dan jiwanya dengan materi, kebencian, dan angkara, sehingga menjadi sempit dan dangkal.”

Aku mencoba mendekati suara itu dan menangkap welas asih. Tapi dia mengelak dan menjauh sambil berkata:

“Kau tak usah mengejar dan mencariku, nanti ketika hati dan jiwa manusia sudah lapang aku pasti datang menemui. Selagi hati dan jiwa masih dipenuhi kebencian dan murka, aku akan tetap menyendiri di tempat sunyi karena aku tak bisa bersemayam di hati yang sempit dan kotor.”

Tinggalkan Balasan