Menumbuhkan Nalar Kritis Santri di Era Digital

Dunia pesantren saat ini tengah berdiri di persimpangan jalan yang paradoksal. Di satu sisi, ia adalah penjaga gawang tradisi turats yang menekankan pada sanad (otoritas) dan hafalan. Di sisi lain, ia dipaksa berhadapan dengan badai digitalisasi yang meruntuhkan tembok-tembok hierarki informasi. Era digital bukan sekadar perpindahan medium dari kertas ke layar, melainkan pergeseran ontologis bagaimana kebenaran dikonstruksi.

Karena itu, menumbuhkan daya kritis santri di era ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keniscayaan eksistensial. Tanpa nalar kritis, santri hanya akan menjadi konsumen pasif narasi populis atau, lebih buruk lagi, terombang-ambing dalam arus pasca-kebenaran (post-truth).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menemukan Akar

Seringkali ada miskonsepsi bahwa bersikap kritis berarti membangkang terhadap kiai atau kitab kuning. Padahal, jika kita menyelami khazanah klasik, nalar kritis adalah fondasi utama intelektualitas Islam.

Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (1336 H/1917 M) karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, meski sangat menekankan etika, terdapat ruang untuk tahqiq —proses memverifikasi kebenaran sebelum menerimanya. Lebih jauh lagi, Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidh min al-Dalal (1106–1109 M) yang ditulis pada awal abad ke-12 memberikan teladan tentang syakk (keraguan metodis). Al-Ghazali tidak menerima begitu saja pengetahuan indrawi maupun rasional sebelum mengujinya secara radikal.

Inilah kutipan pernyataan Al-Ghazali: “Barangsiapa yang tidak meragukan, maka ia tidak akan melihat. Barangsiapa yang tidak melihat, maka ia akan buta dan tetap dalam kesesatan.”

Karena itu, seorang santri juga perlu menyadari bahwa ber-Islam tidak sama dengan berhenti berpikir. Metodologi Bahtsul Masa’il di pesantren sebenarnya adalah laboratorium kritik yang luar biasa. Di sana, sebuah teks (nash) tidak diterima secara tunggal, melainkan diadu dengan berbagai ibarat (literatur) lain, diuji konteksnya melalui illat (rasio hukum), dan dipertimbangkan maslahatnya. Inilah modal awal “nalar kritis” yang harus direaktualisasi dalam konteks digital.

Menghadapi Algoritma

Dalam kacamata filsafat kontemporer, tantangan santri saat ini adalah apa yang disebut Jean Baudrillard (1981) sebagai “Simulakra”. Di dunia digital, realitas seringkali digantikan oleh citraan. Sesuatu dianggap benar bukan karena esensinya, melainkan karena ia viral atau diproduksi secara estetik.

Di sini, santri harus membekali diri dengan “nalar dekonstruksi” Jacques Derrida (1967). Santri tidak boleh hanya membaca teks di permukaan (manthuq), tetapi juga harus mampu melihat apa yang disembunyikan di balik teks tersebut (maskut ‘anhu). Siapa yang memproduksi konten tersebut? Apa kepentingan ideologis di baliknya? Mengapa algoritma media sosial memunculkan narasi tertentu di beranda kita?

Michel Foucault juga mengingatkan kita tentang relasi “kuasa/pengetahuan”. Di era digital, pengetahuan seringkali merupakan instrumen kekuasaan. Santri harus kritis terhadap “ustaz seleb” atau “influencer agama” yang mungkin memiliki otoritas visual (follower banyak), namun lemah secara otoritas keilmuan (ilmiah). Nalar kritis membantu santri membedakan mana kalam (perkataan) yang membawa pencerahan, dan mana yang sekadar komodifikasi agama untuk kepentingan ekonomi atau politik praktis.

Dari Tekstual ke Kontekstual

Dalam domain “Nalar Kritik Agama” (2002), sebagaimana dipopulerkan oleh tokoh seperti Mohammed Arkoun atau Nasr Hamid Abu Zayd, santri diajak untuk membedakan mana yang merupakan “wahyu Ilahi” yang absolut dan mana “pemikiran keagamaan” yang merupakan produk sejarah manusia.

Santri di era digital harus berani melakukan pemaknaan ulang terhadap teks klasik agar tetap relevan. Misalnya, bagaimana hukum fikih merespons mata uang kripto, kecerdasan buatan (AI), hingga etika berkomentar di media sosial. Menggunakan pisau analisis hermeneutika, santri tidak lagi sekadar menghafal bunyi teks, tapi menangkap spirit atau maqashid (tujuan) dari teks tersebut.

Kritik agama bukan berarti meruntuhkan agama, melainkan membersihkan agama dari debu-debu fanatisme buta dan kejumudan berpikir. Santri yang kritis akan memahami bahwa membela agama di era digital bukan dengan cara “marah-marah” di kolom komentar, melainkan dengan memproduksi konten yang berbasis riset, data, dan kedalaman akhlak.

Strategi Praktis di Pesantren

Bagaimana mentransformasikan teori-teori berat ini ke dalam kehidupan santri sehari-hari? Ada beberapa langkah strategis:

Pertama, literasi media sebagai kurikulum tambahan. Pesantren harus mengajarkan mekanisme kerja media sosial, bahaya echo chamber (ruang gema), dan cara kerja algoritma. Santri harus tahu bahwa apa yang mereka lihat di layar adalah hasil kurasi mesin, bukan kebenaran universal.

Kedua, dialog lintas disiplin. Mengadopsi pemikiran kontemporer seperti yang ditawarkan oleh Muhammad Abed al-Jabiri (1992) dalam Naqd al-‘Aql al-‘Arabi (Kritik Nalar Arab). Santri perlu dikenalkan pada perbedaan antara nalar bayani (teks), irfani (intuisi), dan burhani (rasio). Keseimbangan ketiga nalar ini akan melahirkan santri yang moderat sekaligus kritis.

Ketiga, laboratorium konten kreatif. Mengubah santri dari konsumen menjadi produsen. Jika ruang digital dipenuhi oleh narasi radikal atau dangkal, itu karena kaum intelektual pesantren memilih diam (silent majority). Santri, misalnya, harus menguasai penulisan esai, membuat video edukasi, dan melakukan infografis keagamaan yang valid.

Menumbuhkan daya kritis santri bukan berarti menjauhkan mereka dari kiai, melainkan mempersenjatai mereka untuk menjaga martabat pesantren di gelanggang global. Santri yang kritis adalah mereka yang memegang teguh kaidah “al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” (merawat tradisi lama yang baik, dan mengambil inovasi baru yang lebih baik).

Di era digital, nalar kritis adalah jimat paling ampuh. Dengan nalar ini, santri tidak akan menjadi “buih” di lautan informasi, melainkan menjadi “jangkar” yang menenangkan dan mencerahkan masyarakat di tengah badai hoaks dan disinformasi.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan