MEREKA YANG MENDERITA

AKU TAHU YANG TAK KAU KETAHUI

I
Lihatlah!
Telah kukatakan sejak mula
mereka hanya akan merusak saja
kini meninggalkan lipatan sengsara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Adilkah tawa mereka
di atas genangan air mata,
di atas hati yang kian hampa,
di atas luka nan menganga.

Tamak segelintir manusia
haus harta tanpa jeda
kenapa Engkau begitu percaya
bolehkah kukata
engkau terlalu keras kepala?

Cukuplah kami memuja
sebab pada mereka
tak kutemukan guna dicipta
selain petaka yang bernama kuasa.

II
Aku tanah yang dahulu diambil paksa
dari rahim sunyi untuk membentuk manusia
Sejak itu kakiku diinjak tanpa jeda
dadaku dibelah demi nama kuasa

Kau tancapkan besi, kau alirkan luka
hutan dilucuti atas nama masa depan semu belaka
kau timbun sungai dengan rakusnya
lalu kau heran saat air mencari jalannya.

Jangan sebut ini murka semata
Aku tak berniat menenggelamkan siapa
aku hanya mengembalikan yang kau rampas dariku lama
air, lumpur, dan tangis manusia.

III
Aku tahu yang tak kau ketahui jua.

APA KABAR DUNIA?

Apa kabar, tangan?
Busuk, penuh dosa
Tak cukupkah kau bekerja,
Menggerogoti hak-hak manusia,
Menyusuri ujung malapetaka,
Hanya demi kesenangan semata?
Tak malukah dirimu, hina
Mengkhianati amanah mulia?

Apa kabar, rumput?
Masihkah berusaha tumbuh?
Merasakan denyut dunia
Walau akhirnya
Kau ditimbun semen dan batu,
Demi sebuah ego
Yang tak kunjung reda

Apa kabar, pohon?
Kau setia menyumbang oksigen di udara,
Demi hidup para manusia,
Meski kau tahu suatu masa,
Mereka akan menebangmu tanpa rasa,
Sebagai bahan bakar semesta,
Menyulut api nestapa.

Apa kabar, tanah?
Dulu lembut sentosa,
Tempat hidup dan tumbuh,
Segala makhluk.
Kini menganga,
Digeruk cangkul hawa.

Apa kabar, laut?
Di manakah ikan-ikan berpesta,
Antara terumbu kerang,
Ataukah sudah mati,
Tercemar dan diracun
Oleh sampah dan plastik?

Apa kabar, langit?
Dulu biru nan sejuk
Bersama awan putih.
Kini telah pekat, hitam.
Karena asap polusi,
Yang tak hentinya tertawa.

Apa kabar, dunia?
Aku tahu kau sedang tak baik-baik saja.
Semoga kau belum murka
Menyaksikan perbuatan dosa.
Terima kasih, kukata
Untuk setiap jasa.

PEMIMPIN SEBENARNYA

Saat daun-daun hangus berterbaran
Pohon-pohon tumbang berhamburan
Hutan-hutan gundul berserakan
Ikan-ikan mati keracunan

Alam rusak—
Dan tak seorang pun peduli.

Apakah tugas pemimpin membiarkan?
Meminta dunia segera dihancurkan?
Membawa semesta di bibir jurang?
Sungguh tidak!

Apakah banjir karena penyumbatan disebut bencana?
Longsor karena penggundulan disebut kecelakaan?
Ataukah ulah tangan-tangan persetan?
Hanya satu pertanyaan terakhir,
Siapa pemimpin sebenarnya?

Annuqayah, 13 November 2024.

Sumber ilustrasi: thefutureisourcanvas.com

Multi-Page

Tinggalkan Balasan