Muktamar, Ambisi, dan Lain-lain

Sore itu, halaman ndalem seorang kiai sepuh di pinggir kota Jember terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa mobil berpelat luar daerah terparkir rapi. Sandal berjajar memenuhi teras. Di ruang tamu gelas-gelas kopi hitam terus berdatangan silih berganti, seakan dapur tak pernah berhenti bekerja.

Kang Ibnu duduk di pojok depan kamarnya yang dekat dengan ndalem. Ia memperhatikan satu per satu tamu yang datang. Ada yang membawa buah tangan. Ada yang membawa map yang mungkin isinya proposal. Ada pula yang duduk hanya berniat silaturahmi. Setidaknya begitu yang mereka katakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sela percakapan yang terdengar hangat itu, Kang Ibnu tersenyum kecil.

Muktamar memang belum dimulai. Tetapi tanda-tandanya sudah terasa di mana-mana. Orang-orang yang bertahun-tahun sibuk dengan urusan masing-masing mendadak memiliki waktu luang. Mereka yang awalnya sulit dihubungi kini sangat responsif. Mereka yang lama tidak terlihat dalam kegiatan organisasi, tiba-tiba hadir hampir di setiap forum. Seolah-olah ada kekuatan misterius yang membangunkan cinta pada organisasi.

“Cinta datang lima tahun sekali,” gumam Kang Ibnu sambil menyeruput kopi.

Ia tidak sedang sinis. Ia hanya sedang mengamati fenomena yang terus berulang. Sebab setiap kali muktamar mendekat, organisasi berubah menjadi magnet besar yang menarik banyak kepentingan ke dalam satu titik.

Dalam tradisi organisasi, ia bukan hanya sekadar forum memilih pemimpin. Ia adalah ruang muhasabah bersama. Tempat kader-kader berkumpul untuk bertanya tentang arah perjuangan, tentang cita-cita yang belum tercapai, tentang tantangan yang harus dihadapi di masa depan.

Tetapi manusia sering kali memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah tujuan menjadi alat, dan alat menjadi tujuan. Lambat laun, sebagian orang tidak lagi melihat muktamar sebagai forum musyawarah. Mereka melihatnya sebagai kesempatan. Kesempatan untuk memperluas pengaruh. Kesempatan untuk memperkuat posisi. Kesempatan untuk memastikan bahwa orang yang duduk di kursi kepemimpinan adalah orang yang dekat dengan mereka.

Kang Ibnu teringat pada sebuah kalimat yang pernah ia baca dalam buku filsafat politik: “Kekuasaan tidak selalu mengubah manusia. Kadang ia hanya memperlihatkan siapa manusia sebenarnya.”

Barangkali itulah yang terjadi menjelang muktamar. Segala sesuatu yang selama ini tersembunyi perlahan muncul ke permukaan. Yang selama ini mengaku paling ikhlas mulai sibuk menghitung dukungan. Yang selama ini berbicara pengabdian mulai sibuk membaca peta kekuatan. Yang selama ini mengajak orang menjaga persaudaraan mendadak rajin membangun kubu.

Semua berlangsung halus. Kadang dibungkus silaturahmi. Kadang dibungkus diskusi kebangsaan. Kadang dikemas dengan kepedulian terhadap masa depan organisasi. Tetapi, di balik semua itu, ada pertanyaan yang mengganggu pikiran Kang Ibnu: apakah yang sedang diperjuangkan benar-benar masa depan organisasi, atau masa depan jabatan?

Di dunia pesantren, para kiai sepuh sering mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah yang sangat berat. Amanah bukan hadiah. Amanah bukan prestasi. Amanah bukan trofi yang diperebutkan. Tetapi dalam dunia modern, jabatan mengalami perubahan makna. Ia menjadi simbol kemenangan. Menjadi ukuran keberhasilan. Menjadi bukti bahwa seseorang dianggap penting.

Akibatnya, banyak orang mencintai organisasi bukan karena nila-nilai yang diperjuangkan oleh organisasi itu, melainkan karena posisi yang tersedia di dalamnya. Organisasi lalu dipandang seperti tangga. Bukan rumah perjuangan. Bukan rumah pengabdian. Melainkan alat untuk menuju panggung yang lebih tinggi.

Kang Ibnu merasa inilah ironi terbesar yang sering tidak disadari. Organisasi keagamaan lahir untuk meredam nafsu manusia. Tetapi kadang organisasi justru tempat nafsu mencari mimbar yang lebih sopan. Ambisi yang dibungkus bahasa pengabdian. Persaingan yang dikemas atas nama persaudaraan. Perebutan pengaruh yang dipoles dengan kepentingan umat. Semua terdengar mulia. Karena itulah sering kali sulit dibedakan.

Malam mulai turun. Suara jangkrik terdengar di belakang kamar pondok. Para tamu satu per satu berpamitan pulang.

Kiai sepuh yang dari tadi lebih banyak diam akhirnya berbicara pelan. “Kalau orang datang hanya ketika muktamar, berarti yang dicintai belum tentu organisasi.”

Semua terdiam. Kang Ibnu yang dari sore mengamati juga ikut terdiam dan merenung. Kalimat itu sederhana. Tetapi terasa sepeti mengetuk sesuatu yang lama tersembunyi.

Sebab cinta yang sejati selalu hadir sebelum momentum datang. Ia tetap bekerja meskipun tidak ada sorotan. Ia tetap mengabdi meskipun tidak ada pemilihan. Ia tetap setia ketika tidak ada peluang memperoleh apa pun.

Para pendiri organisasi besar tidak membangun rumah perjuangan dengan logika menang dan kalah. Mereka membangun dengan logika khidmat. Mereka menghabiskan umur bukan untuk mengejar tingginya posisi, melainkan memastikan nilai-nilai tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, yang paling berbahaya menjelang muktamar bukanlah perbedaan pilihan. Perbedaan adalah hal yang wajar. Yang berbahaya adalah ketika organisasi kehilangan ruh pengabdiannya. Ketika kader lebih sibuk mencari kemenangan daripada mencari kemanfaatan. Ketika jabatan lebih dihormati daripada pengorbanan. Ketika kedekatan dengan kekuasaan dianggap lebih penting daripada kedekatan dengan nilai.

Sebelum meninggalkan teras depan kamarnya, Kang Ibnu mencatat satu kalimat kecil di halaman belakang kitab yang ia pegang: “Organisasi tidak pernah rusak karena banyaknya orang yang mengabdi. Organisasi rusak karena banyak orang yang berebut untuk memiliki.” Lalu ia menutup kitab itu perlahan.

Di musala, suara azan isya berkumandang. Muktamar akan datang bulan depan. Nama kandidat akan bermunculan. Dukungan akan bergerak. Desas-desus kampanye akan ramai. Pertemuan-pertemuan akan semakin ramai.

Tetapi bagi Kang Ibnu, pertanyaan yang paling krusial tetap sama: Siapa yang paling siap melayani ketika kursi sedang kosong?

Sebab sejarah selalu membuktikan bahwa organisasi tidak bertahan karena pemimpin yang pandai mencari tepuk tangan. Ia bertahan karena orang-orang yang tetap bekerja saat tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan.

Tinggalkan Balasan