Muktamar, Ambisi, dan Lain-lain

Semua terdiam. Kang Ibnu yang dari sore mengamati juga ikut terdiam dan merenung. Kalimat itu sederhana. Tetapi terasa sepeti mengetuk sesuatu yang lama tersembunyi.

Sebab cinta yang sejati selalu hadir sebelum momentum datang. Ia tetap bekerja meskipun tidak ada sorotan. Ia tetap mengabdi meskipun tidak ada pemilihan. Ia tetap setia ketika tidak ada peluang memperoleh apa pun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para pendiri organisasi besar tidak membangun rumah perjuangan dengan logika menang dan kalah. Mereka membangun dengan logika khidmat. Mereka menghabiskan umur bukan untuk mengejar tingginya posisi, melainkan memastikan nilai-nilai tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, yang paling berbahaya menjelang muktamar bukanlah perbedaan pilihan. Perbedaan adalah hal yang wajar. Yang berbahaya adalah ketika organisasi kehilangan ruh pengabdiannya. Ketika kader lebih sibuk mencari kemenangan daripada mencari kemanfaatan. Ketika jabatan lebih dihormati daripada pengorbanan. Ketika kedekatan dengan kekuasaan dianggap lebih penting daripada kedekatan dengan nilai.

Sebelum meninggalkan teras depan kamarnya, Kang Ibnu mencatat satu kalimat kecil di halaman belakang kitab yang ia pegang: “Organisasi tidak pernah rusak karena banyaknya orang yang mengabdi. Organisasi rusak karena banyak orang yang berebut untuk memiliki.” Lalu ia menutup kitab itu perlahan.

Di musala, suara azan isya berkumandang. Muktamar akan datang bulan depan. Nama kandidat akan bermunculan. Dukungan akan bergerak. Desas-desus kampanye akan ramai. Pertemuan-pertemuan akan semakin ramai.

Tetapi bagi Kang Ibnu, pertanyaan yang paling krusial tetap sama: Siapa yang paling siap melayani ketika kursi sedang kosong?

Sebab sejarah selalu membuktikan bahwa organisasi tidak bertahan karena pemimpin yang pandai mencari tepuk tangan. Ia bertahan karena orang-orang yang tetap bekerja saat tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan.

Tinggalkan Balasan