Muktamar, Ambisi, dan Lain-lain

Kang Ibnu teringat pada sebuah kalimat yang pernah ia baca dalam buku filsafat politik: “Kekuasaan tidak selalu mengubah manusia. Kadang ia hanya memperlihatkan siapa manusia sebenarnya.”

Barangkali itulah yang terjadi menjelang muktamar. Segala sesuatu yang selama ini tersembunyi perlahan muncul ke permukaan. Yang selama ini mengaku paling ikhlas mulai sibuk menghitung dukungan. Yang selama ini berbicara pengabdian mulai sibuk membaca peta kekuatan. Yang selama ini mengajak orang menjaga persaudaraan mendadak rajin membangun kubu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Semua berlangsung halus. Kadang dibungkus silaturahmi. Kadang dibungkus diskusi kebangsaan. Kadang dikemas dengan kepedulian terhadap masa depan organisasi. Tetapi, di balik semua itu, ada pertanyaan yang mengganggu pikiran Kang Ibnu: apakah yang sedang diperjuangkan benar-benar masa depan organisasi, atau masa depan jabatan?

Di dunia pesantren, para kiai sepuh sering mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah yang sangat berat. Amanah bukan hadiah. Amanah bukan prestasi. Amanah bukan trofi yang diperebutkan. Tetapi dalam dunia modern, jabatan mengalami perubahan makna. Ia menjadi simbol kemenangan. Menjadi ukuran keberhasilan. Menjadi bukti bahwa seseorang dianggap penting.

Akibatnya, banyak orang mencintai organisasi bukan karena nila-nilai yang diperjuangkan oleh organisasi itu, melainkan karena posisi yang tersedia di dalamnya. Organisasi lalu dipandang seperti tangga. Bukan rumah perjuangan. Bukan rumah pengabdian. Melainkan alat untuk menuju panggung yang lebih tinggi.

Kang Ibnu merasa inilah ironi terbesar yang sering tidak disadari. Organisasi keagamaan lahir untuk meredam nafsu manusia. Tetapi kadang organisasi justru tempat nafsu mencari mimbar yang lebih sopan. Ambisi yang dibungkus bahasa pengabdian. Persaingan yang dikemas atas nama persaudaraan. Perebutan pengaruh yang dipoles dengan kepentingan umat. Semua terdengar mulia. Karena itulah sering kali sulit dibedakan.

Malam mulai turun. Suara jangkrik terdengar di belakang kamar pondok. Para tamu satu per satu berpamitan pulang.

Kiai sepuh yang dari tadi lebih banyak diam akhirnya berbicara pelan. “Kalau orang datang hanya ketika muktamar, berarti yang dicintai belum tentu organisasi.”

Tinggalkan Balasan