Ngaji “Suwung” di Awal Ramadan

Lebih dalam lagi bahwa pemahaman akan suwung itu berkaitan dengan ma khalaqta hadzaa baatila, bahwa tidak ada sesuatu yang diciptaan di muka bumi ini sia-sia. Artinya bahwa setiap sesuatu yang terjadi atau realitas yang dihadapi pasti tidak ada kesia-siaan sama sekali.

Ketika seseorang menghadapi sikap yang berbeda dengan di masa lalu, semisal kalau dulu anak-anak tanpa adanya gadget mereka lebih memperhatikan dan peka, sedangkan sekarang di generasi Z justru berbeda, ini tidak harus dipandang sebagai perubahan nilai dan menyalahkan perkembangan. Padahal itu adalah proses dan cara pandang yang berbeda dan lebih sesuai dengan kondisi saat ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pendek kata, suwung adalah proses untuk saling memiliki sikap khusnudzan atau berprasangka baik terhadap realitas yang sedang terjadi. Karena, untuk menumbuhkan prasangka baik perlu adanya proses penempaan diri yang kuat. Hal ini juga berkaitan dengan ajaran agama, di mana prasangka baik adalah upaya untuk menjaga stabilitas respon dalam diri.

Dalam pendekatan lain, suwung berarti adalah kondisi nfinity atau ketakterhinggaan. Seperti contoh; “Jika kemarin dicintai, dan sekarang disakiti, maka biasa-biasa saja. Mengapa? Karena kita tidak bisa mengikat apapun di luar diri kita.”

Tinggalkan Balasan