Re-thinking Feminism dan Muslim Indonesia

Dalam konteks kekinian, kita mengenal Saparinah Sadli, Sjamsiah Ahmad, Kristi Poerwandari, Gadis Arivia, Marianne Katoppo dan sederet nama-nama lain yang konsisten dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender. Setelah Orde Baru tumbang, berbagai organisasi perempuan pun banyak yang mulai terlihat kiprahnya, seperti Women Research Institute, Jurnal Perempuan, Rahima, Kapal Perempuan, dan juga lembaga seperti Komnas Perempuan serta KPPPA dan berbagai nama lainnya.

Era tahun 1990an menjadi sebuah era yang penting terutama bagi perempuan muslim Indonesia karena pada tahun-tahun tersebut, banyak lahir forum-forum baru, organisasi-organisasi baru, dan buku-buku Islam baru yang memiliki pandangan yang lebih “membebaskan”. Buku-buku dengan tema kesetaraan gender seperti Women in Islam yang ditulis Fateema Mernissi dan Women in the Qur’an yang ditulis Amina Wadud, diterbitkan dalam Bahasa Indonesia pada tahun 1994 oleh Pustaka Bandung. Pada tahun yang sama, sebuah jurnal islam di Indonesia, yaitu Ulumul Qur’an menerbitkan edisi khusus yang berisi isu-isu hak asasi perempuan, feminisme, feminisme Islam, dan anti-feminisme (Qibtiyah, 2010: 151).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kelahiran organisasi Islam yang mengusung pembaharuan di awal 1900-an seperti Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 dan Muhammadiyah pada tahun 1912 nampaknya semakin mendukung gerakan perempuan muslim dalam merepresentasikan suaranya mengenai pendidikan dan hak asasi perempuan. Ini bisa dilihat dari berbagai aktivitas yang dinaungi baik oleh NU maupun Muhammadiyah. Misalnya dalam bidang pendidikan, telah didirikannya TK Diponegoro, TK Aisyiyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan lain sebagainya. Kemudian dalam lingkungan NU sendiri, ada organisasi IPPNU, Fatayat, dan Muslimat NU yang sangat mengusung pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan perempuan, sebagai kunci perjuangan perempuan di Indonesia yang diwadahi organisasi-organisasi perempuan, sangat berkaitan dengan bagaimana cara dan strategi yang digunakan aktivis-akitivis perempuan dalam mendekonstruksi relasi gender yang umumnya ada di dalam masyarakat dan dalam merevisi hierarki gender yang sudah ada (Parvanova, 2012). Hal ini tidak mudah, sebab pemberdayaan perempuan seringkali terbentur resistensi masyarakat yang belum terbuka. Pemberdayaan perempuan, kadang kala bahkan dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi kodrat perempuan Indonesia; yang seyogyanya tinggal di rumah, memasak, melayani suami, melahirkan, dan mengasuh anak, bukannya sekolah tinggi-tinggi, kemudian bekerja dan mencari nafkah.

Feminisme dan Muslim Indonesia

Berbicara feminisme dalam pandangan masyarakat Islam Indonesia sebenarnya sangat menarik. Sebab, istilah feminisme itu sendiri sudah dianggap problematis. Selain dianggap (antek) Barat, membicarakan feminisme juga seringkali dituduh omong kosong. Jarang sekali orang mau melihat feminisme sebagai perjuangan keadilan seperti: pembebasan dari kebodohan, dari diskriminasi, dari penindasan. Feminisme lebih dipandang sebagai anti-laki-laki, anti-keluarga, bukan perempuan baik-baik, bahkan lesbian.

Tinggalkan Balasan