Relasi Kuasa dan Luka di Lingkungan Pesantren

Sementara itu, dari sisi ḥifẓ al-‘irḍ, pencabulan secara langsung merusak kehormatan korban. Dalam tradisi Islam, kehormatan merupakan nilai yang dijaga secara serius, bahkan sering disejajarkan dengan perlindungan terhadap jiwa. Ketika seseorang menjadi korban kekerasan seksual, yang terdampak bukan hanya dirinya secara personal, tetapi juga martabat sosial yang sering kali ikut tercederai—terutama dalam masyarakat yang masih kerap menyalahkan korban.

Dengan demikian, pencabulan bukan sekadar pelanggaran moral individual, melainkan tindakan yang bertentangan langsung dengan tujuan utama syariat. Karena itu, setiap upaya untuk menutupi atau mereduksi kasus semacam ini sejatinya adalah bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai dasar yang hendak dijaga oleh agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam situasi ini, keberpihakan terhadap korban harus menjadi prioritas. Korban membutuhkan ruang aman untuk berbicara, didengar, dan dilindungi. Pesantren, sebagai institusi pendidikan, perlu mulai membangun mekanisme yang lebih transparan dan akuntabel, termasuk sistem pelaporan yang independen dan perlindungan yang jelas bagi korban.

Penting untuk ditegaskan, kritik terhadap praktik semacam ini bukanlah bentuk serangan terhadap pesantren atau agama. Yang sedang disoroti adalah penyalahgunaan otoritas, bukan ajaran itu sendiri. Justru dengan kritik yang jujur, pesantren memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan yang bermartabat.

Pada akhirnya, pesantren tidak akan runtuh karena kritik. Ia justru bisa melemah ketika enggan bercermin. Kepercayaan umat tidak hilang karena adanya kasus, tetapi karena ketidakjujuran dalam menghadapinya. Mengakui masalah, memperbaiki sistem, dan melindungi yang lemah adalah langkah yang tidak hanya penting secara sosial, tetapi juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Sebagai santri, saya percaya bahwa menjaga pesantren tidak cukup dengan membanggakan tradisinya, tetapi juga dengan berani mengoreksi apa yang perlu diperbaiki. Karena pada akhirnya, pesantren bukan hanya tentang menjaga ilmu, tetapi juga tentang menjaga martabat manusia.

Tinggalkan Balasan