Haru,
karena Tuhan mengizinkanku
menyaksikan sebuah kisah
dari dekat.
Bangga,
karena ternyata aku datang
bukan hanya ke sebuah perayaan,
melainkan ke tempat
di mana sebuah perjalanan pernah dilahirkan.

Bahagia,
karena malam itu
aku tidak sekadar mengenang sejarah.
Aku berada
di dalamnya.
Kelak, mungkin
rumah merah ini hanya akan disebut
dalam beberapa baris buku.
Nama-nama mereka
mungkin perlahan menjadi catatan kaki
foto-foto malam ini
mungkin suatu hari menguning
tetapi malam itu aku tahu
sebelum sejarah menjadi tulisan
ia pernah menjadi manusia
Pernah menjadi keberanian
pernah menjadi persahabatan
pernah menjadi doa
pernah menjadi potongan tumpeng
yang dibagi dengan tangan-tangan
yang telah menempuh perjalanan panjang
Di Rumah Merah itu
aku belajar bahwa kita tidak selalu diberi kesempatan
untuk menyaksikan sejarah
ketika ia sedang lahir
Tetapi malam itu,
Tuhan memberiku kesempatan
untuk duduk di tengah mereka
orang-orang yang pernah menyalakan api itu
dan menyaksikan
sebuah perjalanan
yang kelak akan menjadi sejarah
yang begitu indah
Rumah Merah itu tetap diam
tetapi malam itu
dinding-dindingnya seperti berkata:
Pulanglah
Bawalah kisah ini bersamamu
Sebab sejarah tidak pernah benar-benar selesai
selama masih ada yang mau mengingat dan menjadikannya bagian.
SEMALAM DI RUMAH SAPARDI
Semalam
aku tidur di rumahmu, Pak Sapardi
di antara dinding yang pernah menyimpan
kata-kata yang mungkin
pernah kautulis
ketika malam sedang begitu sunyi
Aku datang sebagai pembaca
tetapi malam itu
entah mengapa
aku merasa seperti seorang peziarah
