Bukan membawa bunga
bukan pula membawa cerita besar
hanya beberapa lembar Fatihah
yang kulafalkan pelan-pelan
agar jarak antara aku dan namamu
menjadi lebih dekat
Di rumah ini
aku membayangkan puisi-puisi itu
pernah lahir dari kesunyian
tumbuh di antara buku-buku
menunggu seseorang membacanya
bertahun-tahun kemudian

Dan malam itu
seseorang itu adalah aku
Aku menyentuh buku-buku
dengan perasaan yang sulit dijelaskan
Ada bahagia yang hampir menangis
ada haru yang diam-diam
menetap di dada
Sebab aku sedang berada
di tempat yang selama ini
hanya kukenal melalui kata-kata
Rumah ini sederhana
tetapi bagiku
ia seperti perpustakaan yang sedang berdoa
Setiap sudutnya
seolah menyimpan satu bait
setiap bukunya
seperti pintu menuju
Sapardi yang lain
Sapardi yang tidak pernah selesai
kutemui dalam puisinya
Malam semakin larut
Aku kembali melafalkan Fatihah
untukmu
untuk segala yang pernah kautulis
untuk kata-kata yang telah menemani
begitu banyak kesunyian manusia
Barangkali beginilah
wisata religi yang paling sederhana
datang dengan hati
lalu mendoakan seseorang
yang telah lama pergi
Dan beginilah
wisata puisi yang paling sunyi:
tidur di sebuah rumah
tempat puisi-puisi pernah dilahirkan
lalu terbangun
dengan perasaan
seolah baru saja membaca
sebuah sajak yang panjang
Aku tidak tahu
apakah rumah ini masih mengingatmu
Tetapi malam tadi
aku merasa
kau masih tinggal di sana
bukan sebagai tubuh
melainkan sebagai kata-kata
yang berserakan di antara buku
di udara,
di meja,
di kamar,
dan di kepala seorang pembaca
yang terlalu bahagia
karena akhirnya
bisa bermalam
di rumah penyair yang selama ini
hanya ia kenal
melalui puisi
Pagi datang perlahan
Aku hendak pulang
dengan membawa sedikit debu
dari rumahmu,
beberapa halaman dalam ingatan,
dan Fatihah yang semalam
tak henti-hentinya kulangitkan
Terima kasih, Pak Sapardi
Semalam saja
aku tidak sekadar membaca puisimu
Aku tinggal di dalamnya.
Ciputat, 18 Agustus 2026.
