Ada salah satu ungkapan seorang filsuf asal Jerman yang bagi kebanyakan orang sangat kontroversial. Sebab, pernyataannya sangat bertentangan dengan apa yang diyakini oleh orang banyak. Filsuf itu bernama Friedrich Nietzsche.
Ia dikenal karena pernyataan kontroversialnya mengenai agama dengan mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Akibat pernyataan ini, banyak yang menganggap ia sudah gila atau seorang ateis yang tidak bertuhan. Padahal, pada kenyataannya yang ia lakukan adalah bentuk kepeduliannya kepada agama.

Sebenarnya ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah bagi seorang filsuf, karena mereka selalu datang dengan pikiran-pikiran yang wah, dan terkadang sangat melenceng dari apa yang orang kebanyakan pikirkan. Namun, bukan berarti apa yang mereka sampaikan itu salah.
Jadi, setelah memahami latar belakang Nietzsche, kita kembali ke pertanyaan inti dari tulisan ini: apakah benar Tuhan sudah mati?
Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Friedrich Nietzsche bukanlah Tuhan mati secara fisik, seperti manusia mati pada umumnya. Bukan pula Tuhan kehilangan eksistensi-Nya. Sebab, sebagaimana yang kita yakini, Tuhan itu Maha Kekal dan mustahil bagi Tuhan untuk mati.
Karena itu, maksud dari frasa “Tuhan mati” adalah Tuhan yang ada pada keyakinan masyarakat Eropa yang lama kelamaan semakin memudar. Setiap tindak laku yang dilakukan oleh masyarakat sudah tidak didasari oleh Tuhan. Orang-orang tetap melakukan adat istiadat keagamaan Kristen, namun hal itu hanya dilakukan sekadar kebiasaan bukan karena didasari oleh keyakinan akan Tuhan.
Di zaman dahulu, orang Eropa masih kental akan agama. Setiap kejadian selalu dikaitkan dengan Tuhan, sehingga setiap perbuatan yang dilakukan memiliki nilainya masing-masing.
Dulu orang bisa melakukan kebaikan dengan tenang tanpa mengharap imbalan karena mereka sudah memiliki nilai sendiri dari perbuatannya. Namun, sekarang hal seperti itu sudah sangat sulit ditemukan, karena nilai Tuhan sudah tidak digunakan, digantikan oleh nilai manusia yang masih rapuh. Inilah yang dimaksud Nietzsche ketika ia mengatakan “Tuhan sudah mati” – bukan kematian Tuhan secara ontologis, melainkan kematian fungsi Tuhan dalam kehidupan moral dan sosial masyarakat.
