Tuhan Sudah Mati, Benarkah?

Sebelum itu perlu kita ketahui bersama bahwasanya pemikiran filsafat sifatnya berbeda-beda sesuai dengan masanya. Jadi, pemikiran filsafat sifatnya tidak dapat terus digunakan begitu saja. Ia harus menyesuaikan di setiap zamannya, seperti pemikiran Nietzsche ini.

Pernyataan seperti ini bisa muncul di benak Nietzsche, sebab memang pada zaman itu kepercayaan seseorang akan Tuhan sudah mulai luntur. Nilai-nilai kebaikan agama yang dilandasi oleh kepercayaan pada Tuhan juga sudah mulai menghilang. Itulah yang menjadi latar Nietzsche memunculkan pemikiran kontroversialnya sebagai bahan sindiran supaya orang-orang sadar. Dalam kondisi ini akan ada dua macam orang: mereka yang bisa membangun nilai sendiri, atau mereka yang tetap melakukan rutinitas meski tanpa nilai keagamaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kembali lagi pada pertanyaan awal: apakah benar Tuhan sudah mati? Menurut pemahaman yang benar atas pernyataan Nietzsche, jawabannya adalah tidak. Tuhan tidak mati secara hakiki. Yang mati adalah keyakinan manusia kepada Tuhan. Yang mati adalah fondasi moral yang dulu bersumber dari keimanan yang hidup.

Nietzsche tidak pernah bermaksud menyatakan bahwa Tuhan secara ontologis tidak ada atau Tuhan mengalami kematian sebagaimana makhluk fana. Ia justru sedang memperingatkan bahaya dari masyarakat yang masih menjalankan ritual agama namun hatinya sudah kosong dari iman. Dalam konteks inilah kita bisa memahami bahwa pernyataan Nietzsche sebenarnya adalah bentuk kritik sosial dan kepedulian terhadap nasib moral umat manusia, bukan serangan terhadap ketuhanan itu sendiri.

Ibaratnya begini: iman kepada Tuhan itu adalah fondasi, di atasnya adalah segala kebaikan mulia yang diajarkan pada setiap agama. Jika iman kuat, fondasinya kuat, sehingga apa yang ada di atasnya akan kokoh.

Mungkin kita di sini pernah merasakan rasa tenang dan damai ketika melakukan hal-hal baik. Sebab, di sana kita sudah membangun nilai yang kuat. Namun jika fondasi yang kita bangun itu rapuh, nilai atas setiap perbuatan kita ikut rapuh atau bahkan tidak ada. Yang terjadi adalah bangunan yang di atasnya akan roboh.  Hal itu sama seperti kita melakukan kebaikan tapi tanpa nilai. Kita tidak akan merasakan ketenangan dan kejelasan dari tindakan yang kita lakukan.

Contoh saja sedekah: orang yang sudah memiliki fondasi keyakinan yang kuat akan lapang dada memberikan uangnya yang banyak kepada orang yang membutuhkan, kepada orang yang kepepet, orang yang kesusahan, tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun dari orang lain. Sebab, ia sudah mendapatkan imbalan tersebut dari Tuhan saat bersedekah. Berbeda jika ia tidak punya fondasi keyakinan kepada Tuhan dan agama. Maka, sedekahnya akan terasa berat, penuh perhitungan, atau sekadar pamer.

Jadi, Tuhan itu tidak benar-benar mati dalam arti kehilangan eksistensinya. Tuhan mati dalam kepercayaan orang-orang yang mengakibatkan kehilangan nilai dari setiap tindakan baik yang mereka lakukan. Sehingga, mengharuskan setiap orang untuk bisa membangun nilainya sendiri atau tetap menjalani rutinitas seperti adat biasanya tanpa nilai sama sekali yang dipegang.

Tinggalkan Balasan