MATI RASA
Dalam kalbu, riuh itu telah usai hanya ada aturan dari dewan penguasa terasa hambar yang mencekik.

Semangat hidup dalam negeri demokrasi tak lagi bisa tersentuh kembali tanpa terdengar penguasa.
Sedih ini pun larut berlalu begitu saja seperti hembusan angin mati di tengah badai terbaring datar, tanpa api perduli.
BUNGKAM
Kata-kata manis janji itu keluar kembali dan disumbat bingkisan. Tanpa terkendali sampai perut membuncit mengambil hak orang tertindas.
Kebebaikan dikurung dalam sangkar besi namun kebenaran dimonopoli kaum elit hingga terbuang hingga lenyap.
Insan mematung pada kekejian itu, orbit perjuangan tertindas keberanian tak ada arti suara di awan demokrasi hanya bungkam yang terus disiksa.
OKSIGEN
Insan ini butuh oksigen ,dalam menjalani ujian kehidupan yang baik berikutnya. Namun hutan itu di babat beganti pohon minyak, tanpa terkendali oleh kaum itu.
Membuatku… sesak dada muak merintih lirih pada penguasa.
Tersiksa batin ini menderu sedih pada hutan penuh harapan, namun.
Napas jiwa, Penghapus duka lara pembawa peruban kian sirna. Bernapaslah dalam doa, berharap waktu baik itu tiba.
PETA DIKSI DI BALIK PETANG
Di balik foto yang berpendar usang, kita bertukar kata dalam surat, merajut harap yang kuncup. Aksara demi aksara ku mencoret membangun jalan di atas awan yang terpisah dengan bumi.
Kau ada dalam bentuk tinta diatas kertas, membawa warna pada sepi yang tak bertepi. Kita tertawa melalui bekas dan tanda, seolah raga sedang duduk berdua, bergurau bercanda.
Namun, jari ini hanya menyentuh foto dan balasan surat terakhirmu, saat rindu menuntut temu yang kian memijar, pesan terakhirmu membuat raga ini bergetar deras air mata jatuh tak terbendung.
