Menjadi Ibrahim di Era Pemujaan Ambisi

Di tengah derasnya budaya flexing, perlombaan status sosial, dan obsesi pencapaian pribadi di media sosial, masyarakat Indonesia belakangan justru diperlihatkan dengan ironi yang menyentuh. Banyak orang rela kehilangan persaudaraan hanya demi warisan, jabatan, bahkan pengaruh digital.

Dalam momen Iduladha, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kembali ramai dibicarakan di berbagai platform. Namun sayangnya, kisah itu sering berhenti sebagai ritual tahunan, bukan sebagai pelajaran tentang keberanian menyerahkan keinginan terdalam kepada Allah. Padahal, inti pengorbanan Ibrahim bukan sekadar menyembelih, melainkan menundukkan ambisi pribadi dan rasa memiliki.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia modern semakin sulit melepaskan apa yang paling dicintainya. Banyak orang mampu berbagi harta, tetapi gagal menyerahkan ego, gengsi, dan ambisi pribadinya.

Di era pemujaan ambisi pribadi hari ini, keberhasilan sering diukur dari seberapa tinggi jabatan, banyak pengikut, atau besar penghasilan seseorang. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan ruang spiritual untuk belajar tunduk kepada kehendak Tuhan. Di sinilah keteladanan Ibrahim menjadi relevan: ketaatan sejati lahir ketika manusia mampu mengalahkan keinginannya sendiri demi rida Allah.

Realitas sosial saat ini memperlihatkan bahwa ambisi yang tidak terkendali sering melahirkan konflik dan kegelisahan. Perseteruan keluarga, persaingan politik yang kasar, hingga budaya saling menjatuhkan di media sosial banyak dipicu oleh hasrat ingin menang sendiri.

Dalam kehidupan modern, manusia didorong untuk terus memiliki dan menguasai, seolah kehilangan sesuatu adalah kegagalan hidup. Padahal Nabi Ibrahim justru mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang rela dilepaskan karena Allah.

Tradisi pesantren sebenarnya telah lama mengajarkan latihan menjadi “Ibrahim-Ibrahim kecil” dalam kehidupan sehari-hari. Seorang santri dibiasakan hidup sederhana, mengurangi kenyamanan pribadi, serta mendahulukan adab dibanding hawa nafsu. Bangun sebelum subuh, taat kepada guru, dan hidup bersama dalam kesederhanaan merupakan bentuk pendidikan batin agar manusia tidak diperbudak keinginannya sendiri. Para kiai sering mengingatkan bahwa sumber kerusakan bukan hanya lemahnya ilmu, tetapi kuatnya nafsu yang tidak dikendalikan.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan