Abah Uki,
Saya tidak tahu apakah surat ini akan sampai ke tempat yang kini Abah huni.

Tapi saya percaya, sebagaimana doa yang melintasi langit tanpa kuota dan jaringan internet, sebagaimana puisi yang menemukan pembacanya puluhan tahun setelah penyairnya tiada, dan sebagaimana aroma kopi hitam yang diam-diam mengajak orang pulang kepada kenangan, ada hal-hal yang tak memerlukan alamat pasti untuk tiba.
Karena itu saya memberanikan diri menulis surat ini. Surat untuk seorang sahabat banyak orang. Surat untuk seorang pengembara kebudayaan. Surat untuk seorang lelaki yang lebih sering memilih duduk di pojok dan kerumunan anak-anak muda daripada di kursi kehormatan.
Kabar kepergian Abah beberapa waktu lalu membuat saya kembali duduk di sebuah sore yang kini terasa sangat jauh: 22 Oktober 2022, di Adakopi.
Sore itu Abah datang seorang diri. Tak ada yang menyambut dengan karangan bunga. Tak ada rombongan yang membuka jalan. Tak ada pengeras suara yang mengumumkan kedatangan seorang tokoh kebudayaan. Abah datang begitu saja, sebagaimana angin datang ke halaman adakopi tanpa meminta izin.
Saya masih ingat pakaian longgar yang Abah kenakan, blangkon yang bertengger tenang di kepala, dan langkah pelan yang seolah membawa serta cerita-cerita dari masa ketika kesenian belum sibuk menghitung penonton, jumlah tayangan, atau nilai sponsor.
Waktu itu saya belum benar-benar mengenal Abah. Tetapi entah mengapa, ada perasaan akrab yang sulit dijelaskan. Seolah-olah saya sedang bertemu seseorang yang telah lama saya kenal.
Orang-orang boleh mengenal Abah sebagai penyair, jurnalis, penggerak komunitas, pemikir kebudayaan, atau sahabat dekat para seniman besar. Namun bagi saya, semua sebutan itu terasa terlalu resmi, terlalu administratif, bahkan sedikit dingin.
Bagi saya, Abah adalah guru. Guru yang tidak mengajar dari mimbar. Guru yang tidak membagikan ijazah. Guru yang mengajari banyak orang dengan cara hadir. Abah adalah penjaga ruang-ruang kecil yang sering luput dari perhatian. Penjaga denyut kebudayaan yang tumbuh pelan di sudut-sudut kota. Penjaga mimpi para penyair muda yang masih gagap membaca puisinya sendiri. Penjaga komunitas-komunitas kecil yang baru belajar berdiri, ketika banyak orang lebih sibuk mendatangi panggung-panggung besar yang sudah terang benderang.
Dan mungkin karena itulah, hingga hari ini, saya lebih mudah mengingat Abah sebagai seorang penjaga daripada seorang tokoh.
Padahal, kita tahu, Abah, dunia kesenian kadang tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Ada yang datang membawa puisi, pulang membawa kecewa karena tidak dipanggil naik panggung. Ada yang baru membaca dua bait sajak sudah merasa dilupakan sejarah sastra Indonesia. Ada pula yang lebih rajin menghitung ukuran namanya di spanduk daripada jumlah buku yang dibacanya.
Tidak, Abah. Abah bukan jenis manusia seperti itu.
Satu hal yang tidak pernah kami lupakan dari tahun-tahun terakhirmu, Abah. Beni Satria, murid yang Abah sayangi sekaligus sering membuatmu mengelus dada, pernah bercerita bahwa Abah mulai sering lupa jalan pulang. Jalan menuju rumah kadang kabur dari ingatanmu. Nama jalan, tikungan, dan arah pulang sesekali berkhianat pada usia.
Namun anehnya, di saat ingatanmu mulai menipis pada banyak hal, kau justru tidak pernah lupa jalan menuju komunitas-komunitas kecil. Abah tidak pernah lupa menghadiri pembacaan puisi yang penontonnya bisa dihitung dengan jari. Abah tidak pernah lupa datang ke pentas teater yang bahkan wartawan hiburan pun tak tahu keberadaannya. Abah tidak pernah lupa menyemangati anak-anak muda yang masih gagap membaca puisinya sendiri.
Seolah-olah kepalamu boleh lupa arah rumah, tetapi hatimu tetap hafal jalan menuju kebudayaan. Abah yang selalu menyeringai setiap kali diajak berbincang, tampak tak pernah terlalu peduli pada panggung. Barangkali karena Abah tahu, panggung hanyalah papan yang ditinggikan beberapa senti dari tanah, sementara sebagian orang menganggapnya tangga menuju keabadian.
Ya, Abah, kami yang kadang mudah tersinggung jika tak disebut dalam sambutan. Kami yang sesekali merasa dizalimi panitia karena nama kami tertulis setelah tanda koma. Kami yang diam-diam mengukur kadar penghormatan dari panjangnya waktu diberi mikrofon.
Sedangkan Abah tetap tenang. Tidak kebakaran jenggot ketika tidak diberi panggung. Tidak patah hati ketika tidak diminta membaca puisi. Tidak merasa kiamat kebudayaan hanya karena tidak kebagian kursi baris depan.
Mungkin karena sejak lama Abah sudah memahami sesuatu yang gagal kami pahami: bahwa yang paling penting dalam kesenian bukanlah berdiri di atas panggung, melainkan apa yang tetap hidup setelah lampu panggung dimatikan.
Abah tidak pernah benar-benar cocok menjadi selebritas kebudayaan. Abah lebih suka menjadi pendengar. Abah lebih suka duduk di pinggir gelanggang daripada berdiri di tengah sorotan lampu.
Mungkin karena itulah banyak orang merasa kehilangan ketika engkau pergi. Sebab yang wafat bukan hanya seorang penyair, bukan dramawan, bukan budayawan, tapi yang wafat adalah sebuah cara hidup. Cara hidup yang percaya bahwa kebudayaan tidak lahir dari gedung megah, melainkan dari pertemuan manusia dengan manusia.
Abah Uki,
Di zaman ketika semua orang ingin menjadi pusat perhatian, engkau justru mengajarkan bahwa menjadi tempat berteduh bagi orang lain jauh lebih penting. Di zaman ketika banyak orang sibuk membangun citra, Abah memilih membangun persahabatan. Di zaman ketika kebudayaan sering berubah menjadi industri, Abah tetap percaya bahwa kebudayaan adalah pergaulan batin.
Maka saya tidak heran jika banyak orang mengenangmu bukan karena profesi Abah, bukan karena bukumu, bahkan bukan semata-mata karena puisimu. Mereka mengenang Abah karena kehadiran Abah sendiri. Dan bukankah itu pencapaian paling langka? Bahwa setelah seseorang wafat, yang tinggal bukan sekadar karya-karyanya, melainkan juga kebaikannya.
Abah Uki,
Malam ini Tangsel Creative Foundation kembali teringat pada satu hal yang selama hidup Abah tidak pernah berhenti dikerjakan: merawat mereka yang sering luput dari perhatian, penyair yang masih terbata membaca puisinya, komunitas yang rapatnya lebih sering berpindah tempat daripada memiliki sekretariat tetap, dan kelompok teater yang lebih akrab dengan tambal ban ketimbang sponsor.
Dan anak-anak muda yang membawa mimpi besar dengan isi dompet yang begitu sederhana. Dari hal-hal kecil itulah Abah menjaga sesuatu yang besar: kebudayaan yang tetap hidup, meski sering tidak terlihat.
Karena itu, Abah, melalui Tangsel Creative Award 2026 di City Gallery Tangerang Selatan, Sabtu 20 Juni 2026, Tangsel Creative Foundation tidak sedang sekadar membangun sebuah malam penghargaan. Setidaknya bukan itu yang utama.
Mereka sedang mencoba meneruskan satu kebiasaan yang pernah Abah contohkan dengan sangat sunyi: menyapa, mendengar, dan memberi tempat bagi mereka yang bekerja tanpa sorotan.
Ada penghargaan untuk komunitas, pelaku ekonomi kreatif, media, ruang-ruang kreatif, pegiat sosial, pegiat lingkungan, pegiat pendidikan, seniman, dan anak-anak muda yang terus bergerak meski jarang terlihat kamera.
Sebab Tangsel Creative Foundation tahu, kebudayaan tidak pernah lahir dari mereka yang paling sering berdiri di panggung. Ia tumbuh dari orang-orang yang datang berulang kali, bekerja berulang kali, gagal berulang kali—lalu esok paginya kembali lagi, tanpa pernah merasa perlu diumumkan.
Dan jika malam ini Tangsel Creative Foundation mencoba menanam kembali benih-benih yang dulu Abah sebar, itu karena kami percaya satu hal: orang seperti Abah tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya bergeser tempat. Lalu diam-diam hidup kembali dalam kerja-kerja kecil orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya.
Depok Tepi Tangsel, 20-22 Juni 2026.
Keterangan foto: Tangsel Creative Awards.
