Dari Pesantren Minggir hingga Jungwok 

Tapi, di rumah pantai itu, saya sempat mengobrol hingga larut malam dengan Taufik Rahzen dan Jamal D Rahman. Di antara lalu lintas obrolan yang ditingkap gelap itu, Taufik Rahzen menunjuk satu pantai yang menurutnya cocok untuk dijadikan perkemahan penulis sastra, program yang juga sedang digagas duniasantri. Jungwok, itulah nama pantainya. Menjelang tidur, kami pun bersepakat menambah agenda perjalanan: keesokannya, kami akan mengunjungi Pantai Jungwok.

Selasa siang, bersama rombongan kami bergeser ke Jungwok yang berada di Desa Jepitu. Perlu waktu 40-an menit untuk sampai ke Jungwok, setelah melintasi Jalur Lintas Selatan (JLS) yang mulus namun meliuk-liuk dan naik turun perbukitan hutan dengan tanah-tanah gersang, pohon-pohon meranggas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bukan ke pantainya yang biasa banyak dikunjungi wisatawan. Di Jungwok, dibantu warga setempat, kami menyusuri jalan setapak yang tersembunyi, untuk menemukan tempat yang disembunyikan oleh alam. Tempat itu seperti mutiara yang tersembunyi. Sungguh menakjubkan.

Itulah Swargo Segoro, tempat yang tersembunyi itu, yang berarti surga laut. Persis di bawah Gunung Semar. Ada sebidang hamparan rumput, seperti sabana mini, yang dikelilingi oleh batu-batu karang yang diukir dan ditatah oleh waktu. Ia persis berada di atas bibir laut, yang terus mengirimkan gemuruh ombak tiada henti. Dan di tengah terik Matahari, udaranya terasa begitu sejuk. Ia bagai oase sastrawi yang berada di atas tanah-tanah gersang Gunungkidul.

Saat memutarkan pandangan mata ke sekeliling arah, saya seperti sedang menyaksikan puisi yang diukir oleh alam. Wajar, jika tetiba Jamal D Rahman, berdiri di tebing karang, dengan lantang membacakan salah satu puisinya, yang direkam oleh putrinya. Sebuah perjumpaan puisi

Kami akhirnya bersepakat akan membuat perkemahan penulis di sabana ini: di sini kami akan kembali.

Itulah akhir perjalanan saya: di tempat terindah Gunungkidul. Sepulang dari sana, saya lihat Agus R Sarjono sudah berkemas pulang ke Bandung. Jamal D Rahman juga sudah memesan tiket bus ke Jakarta. Akhirnya, saya juga harus mengakhiri perjalanan, perjalanan menemukan oase-oase sastrawi untuk kembali pada rutinitas yang menanti.

Tinggalkan Balasan