Sebagai tokoh nasional dan pegiat toleransi, Ibu Nyai Shinta Nuriyah selama ini konsisten menyelenggarakan Sahur Kebangsaan di berbagai daerah. Melalui forum sahur bersama, beliau menghadirkan ruang dialog inklusif yang merangkul kelompok-kelompok marjinal serta mempertemukan beragam elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, budaya, maupun status sosial.
Dalam kesempatan tersebut, istri Gus Dur itu menegaskan, bahwa Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman yang saling menguatkan. Kebiasaannya membersamai sahur dan buka puasa keliling bersama kaum marjinal dan masyarakat lintas iman merupakan bentuk ikhtiar merawat persaudaraan kemanusiaan.

“Indonesia ini beragam. Justru karena keberagaman itulah kita kuat. Saya selalu ingin Ramadan menjadi ruang untuk merangkul semuanya, tanpa melihat latar belakang agama, suku, maupun status sosial,” ujarnya.
Ditambahkan, tradisi sahur dan buka bersama yang selama ini ia lakukan bukan sekadar seremoni, melainkan pesan kebangsaan.
“Kita harus menganggap bahwa kita semua bersaudara. Karena hakikatnya kita adalah satu. Satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Itulah semboyan yang kita sebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.
