Jubah dan Luka

Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ketika mendengar kabar tentang kekerasan seksual di pesantren. Kasus di Pati, lalu disusul Pekalongan, dan sejumlah daerah lain, bukan sekadar berita kriminal biasa. Ia seperti palu yang memukul ruang batin para santri, termasuk saya. Pelan, tapi menghantam keras.

Pesantren selama ini dikenal sebagai tempat orang tua menitipkan harapan. Tempat anak-anak belajar adab sebelum ilmu. Tempat akhlak dibentuk sebelum kepintaran ditonjolkan. Maka ketika yang mencederai justru orang yang mestinya menjaga, luka yang muncul bukan hanya pada korban, tetapi juga pada kepercayaan publik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan seperti kaca benggala, apabila kepercayaan itu sekali retak maka tidak mudah direkatkan kembali.

 Retak dari Dalam

Masyarakat mulai bertanya-tanya: “Kalau pesantren saja begini, lalu anak harus belajar akhlak ke mana lagi?”

Pertanyaan itu menyakitkan. Tetapi justru karena menyakitkan, ia tidak boleh dihindari.

Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan marah. Tidak cukup juga hanya dengan defensif dan apologis sambil berkata, “itu cuma oknum.” Sebab publik tidak sedang menghitung jumlah pelaku. Mereka sedang mengukur rasa aman yang didapatkan anaknya ketika di pesantren.

Di titik ini, pesantren sedang diuji. Bukan hanya diuji oleh pelaku kejahatan, tetapi juga diuji oleh cara ia membersihkan dirinya sendiri.

Karena institusi yang besar bukan institusi yang tidak pernah salah. Tetapi institusi yang berani mengakui masalah, memperbaiki diri, dan melindungi yang lemah.

Pesantren tidak boleh berubah menjadi “kerajaan” yang kebal kritik. Sebab ketika kritik dianggap ancaman, biasanya kebusukan mulai dipelihara diam-diam. Dan kalau dibiarkan berkelanjutan maka tinggal tunggu waktu bom nuklir bernama kepercayaan masyarakat itu akan meledak dan menyebarkan radiasi.

Ironisnya, sebagian masyarakat pesantren masih terjebak pada logika: “jangan buka aib pesantren.”

Padahal menutupi kejahatan -iya kejahatan- bukan sekadar aib atau kekurangan, bukan berarti sedang menjaga marwah. Itu justru memperpanjang musibah dan masalah.

Menjaga marwah pesantren hari ini bukan dengan membungkam korban, tetapi memastikan keamanan para santri yang sedang di sana serta menjamin tidak akan ada korban berikutnya.

Santri dan Beban Sosial

Menjadi santri ternyata tidak selesai saat keluar dari pondok. Justru setelah kembali ke masyarakat, tanggung jawabnya yang besar dimulai.

Seorang alumnus pesantren sering dianggap “serba bisa” dalam urusan agama. Diminta jadi imam, diminta khutbah, diminta memimpin tahlil, diminta memberi nama anak, bahkan kadang diminta “menghitung hari baik.”

Lucunya, sebagian santri sendiri sebenarnya masih merasa: “Lho, saya belum alim-alim amat.”

Tetapi masyarakat telanjur memberi panggung kehormatan.

Di satu sisi, ini adalah modal sosial yang luar biasa. Masyarakat Indonesia masih menaruh hormat pada ilmu agama. Mereka percaya bahwa orang yang lama hidup di pesantren semestinya punya kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak.

Namun di sisi lain, penghormatan itu bisa berubah menjadi jebakan jika tidak disertai kesiapan mental dan integritas.

Ada santri yang akhirnya minder, insecure, serta merasa tidak cukup pantas. Tetapi ada juga yang justru terlena oleh penghormatan sosial. Mulai menikmati posisi “orang suci” yang perkataannya dianggap mutlak.

Di sinilah bahaya itu mulai tumbuh. Ketika agama berubah menjadi alat mendapatkan relasi kuasa sosial, orang bisa tergoda memainkan simbol-simbol kesalehan demi keuntungan pribadi.

Dan masyarakat kita, mohon maaf, kadang terlalu mudah kagum pada tampilan religius.

Jubah panjang dianggap otomatis bijaksana. Sorban dianggap sebagai pemilik kebenaran. Berbahasa Arab sedikit dianggap sebagai ulama. Padahal penampilan religius tidak selalu sejalan dengan kedewasaan moral.

Karena itu lahirlah fenomena-fenomena aneh yang kadang sebenarnya absurd, tetapi tetap punya banyak pengikut. Dulu publik pernah digegerkan oleh Kanjeng Dimas. Hari ini muncul lagi figur-figur lain dengan klaim-klaim di luar nalar seperti Mama Gufron. Aneh tapi dipercaya.

Dan pasar sosial kita memang kadang menyukai hal-hal spektakuler dibanding hal-hal substantif. Terjadilah industri kebodohan yang menjangkiti kaum papa agama.

Yang sungguh-sungguh mengerti agama kalah dengan yang bermodal viral. Yang mendalam kalah dengan yang dramatis. Padahal agama tidak dibangun dengan sensasi tapi dengan esensi.

 Menjaga Pesantren

Lalu apa yang bisa dilakukan? Apakah cukup diam, tawakal, lalu berharap keadaan membaik sendiri? Tidak.

Doa memang penting. Tetapi doa tanpa keberanian sering kali hanya menjadi cara halus untuk menghindari tanggung jawab.

Pesantren harus dijaga bersama-sama. Dan menjaganya bukan hanya tugas kiai atau Kementerian Agama, tetapi juga tugas santri, alumni, wali santri, bahkan masyarakat umum.

Pertama, budaya kritik sehat harus mulai dibiasakan. Menghormati kiai bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Takzim tidak identik dengan kehilangan akal sehat. Dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, kritik justru lahir dari rasa cinta terhadap ilmu dan kebenaran. Sehingga tercipta ruang dialektika yang sehat dan aman.

Kedua, tokoh agama yang ‘waras’ harus berani bersuara. Jika ada praktik menyimpang, manipulatif, atau meresahkan masyarakat, jangan diberi ruang pembiaran. Jika perlu diluruskan secara ilmiah, lakukan. Jika perlu pendekatan kultural lewat jalur para masyayikh dan alumni, tempuh dengan akhlak terbaik.

Tetapi jika sudah mengarah pada kriminalitas dan membahayakan masyarakat, maka penegakan hukum harus berdiri di depan. Agama tidak boleh dijadikan tameng kejahatan. Sudah saatnya yang waras tidak mengalah kepada yang bodoh.

Ketiga, masyarakat juga perlu lebih dewasa dalam memilih figur agama. Jangan mudah takjub hanya karena retorika atau atribut kesalehan. Carilah pesantren yang jelas sanad keilmuannya, jelas tradisi akademiknya, jelas ketokohan ulamanya, dan memiliki rekam jejak panjang dalam mendidik umat. Banyak pesantren unggul yang luar biasa mendidik santrinya. Ada Pesantren Tebuireng, Lirboyo, Sarang, Leteh, Ploso, Sidogiri, Gontor, Tambak Beras, dan pesantren terkemuka lainnya.

Kadang kita terlalu sibuk mencari kiai yang “sakti,” padahal yang dibutuhkan sebenarnya kiai yang sehat akalnya, jernih ilmunya, dan baik akhlaknya.

Pesantren memang bukan institusi malaikat. Ia diisi manusia biasa yang mungkin salah, lelah, bahkan tergelincir. Tetapi justru karena itu pesantren harus terus dijaga agar tetap sehat wal afiat.

Sebab kalau benteng moral bangsa ini runtuh, yang kehilangan bukan hanya santri, tetapi seluruh masyarakat.

Dan mungkin, tugas terbesar santri hari ini bukan sekadar menjaga tradisi mengaji. Melainkan, menjaga agar agama tetap menjadi cahaya, bukan alat menakut-nakuti. Menjadi jalan keselamatan, bukan kedok kepentingan. Menjadi sumber akhlak, bukan panggung kesucian palsu.

Karena pesantren yang hebat bukan pesantren yang terlihat paling suci. Tetapi pesantren yang paling jujur saat memperbaiki diri.

Tinggalkan Balasan