Jubah dan Luka

Santri dan Beban Sosial

Menjadi santri ternyata tidak selesai saat keluar dari pondok. Justru setelah kembali ke masyarakat, tanggung jawabnya yang besar dimulai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seorang alumnus pesantren sering dianggap “serba bisa” dalam urusan agama. Diminta jadi imam, diminta khutbah, diminta memimpin tahlil, diminta memberi nama anak, bahkan kadang diminta “menghitung hari baik.”

Lucunya, sebagian santri sendiri sebenarnya masih merasa: “Lho, saya belum alim-alim amat.”

Tetapi masyarakat telanjur memberi panggung kehormatan.

Di satu sisi, ini adalah modal sosial yang luar biasa. Masyarakat Indonesia masih menaruh hormat pada ilmu agama. Mereka percaya bahwa orang yang lama hidup di pesantren semestinya punya kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak.

Namun di sisi lain, penghormatan itu bisa berubah menjadi jebakan jika tidak disertai kesiapan mental dan integritas.

Ada santri yang akhirnya minder, insecure, serta merasa tidak cukup pantas. Tetapi ada juga yang justru terlena oleh penghormatan sosial. Mulai menikmati posisi “orang suci” yang perkataannya dianggap mutlak.

Di sinilah bahaya itu mulai tumbuh. Ketika agama berubah menjadi alat mendapatkan relasi kuasa sosial, orang bisa tergoda memainkan simbol-simbol kesalehan demi keuntungan pribadi.

Dan masyarakat kita, mohon maaf, kadang terlalu mudah kagum pada tampilan religius.

Jubah panjang dianggap otomatis bijaksana. Sorban dianggap sebagai pemilik kebenaran. Berbahasa Arab sedikit dianggap sebagai ulama. Padahal penampilan religius tidak selalu sejalan dengan kedewasaan moral.

Karena itu lahirlah fenomena-fenomena aneh yang kadang sebenarnya absurd, tetapi tetap punya banyak pengikut. Dulu publik pernah digegerkan oleh Kanjeng Dimas. Hari ini muncul lagi figur-figur lain dengan klaim-klaim di luar nalar seperti Mama Gufron. Aneh tapi dipercaya.

Dan pasar sosial kita memang kadang menyukai hal-hal spektakuler dibanding hal-hal substantif. Terjadilah industri kebodohan yang menjangkiti kaum papa agama.

Tinggalkan Balasan