Menggugat Krisis Moral Otoritas Karismatik

Masyarakat awam dengan basis pengetahuannya yang dangkal akan langsung mempercayai semua hal yang dilakukan ataupun diperintahkan oleh tokoh agamanya, tanpa mempertanyakan kebenarannya. Jelas mereka menganggap tokoh agama merupakan orang yang alim ataupun pintar dalam urusan agama, bahkan persoalan-persoalan lainnya yang tidak ada kaitannya dengan agama.

Jadi tidak perlu ditanyakan lagi, sebagaimana teori dari Max Weber dalam Wirtschaft und Gesellschaft, yang menyatakan bahwa otoritas karismatik, termasuk di dalamnya adalah tokoh agama, memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam masyarakat. Sebab, mereka percaya bahwa tokoh tersebut memiliki kualitas luar biasa, kekuatan supranatural, atau hubungan khusus dengan Tuhan yang tidak dimiliki orang biasa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fenomena kepatuhan total pada tokoh agama ini sangat tampak dalam berbagai kasus di Indonesia, bukan hanya tindak kekerasan seksual. Salah satunya yang menjadi sorotan adalah dalam hal pemilu. Tidak jarang masyarakat akan mengikuti ajakan kiai, ustaz, ataupun tokoh agama lainnya untuk memilih calon yang didukung oleh mereka, meski sebenarnya masyarakat memiliki dukungannya sendiri. Sejarah mencatat peristiwa semacam ini terjadi saat Pemilu 1955, Pilkada DKI Jakarta 2017, dan Pilpres 2019. Semua melibatkan unsur tokoh keagamaan untuk mencari dukungan dan relatif hasilnya memuaskan.

Penyalahgunaan otoritas keagamaan seperti ini dapat menurunkan tingkat kepercayaan kolektif terhadap tokoh-tokoh agama. Akibatnya masyarakat awam akan kehilangan figur teladan dalam menjalani kehidupannya. Padahal mereka sangat membutuhkan sosok yang menjadi pengikat dalam mewujudkan  keharmonisan dalam bermasyarakat melalui tuntunan ajaran agama.

Menjadi seorang tokoh agama tentu bukanlah pilihan yang buruk, justru sangat dianjurkan. Namun, menjadi tokoh agama tidak cukup hanya menguasai berbagai ilmu keagamaan, namun juga harus dibarengi dengan pengetahuan tentang moralitas yang kuat. Karena, ketika seseorang telah mendapatkan kepercayaan publik yang tinggi, dorongan untuk memuaskan hasratnya dengan memanfaatkan pengikutnya akan relatif lebih mudah. Fakta ini yang mendorong tokoh-tokoh religius untuk bertindak sewenang-wenang.

Tinggalkan Balasan