Kenapa fenomena seperti ini masih saja terjadi, bahkan di era serba digital seperti ini? Mungkin sebagian kita telah lupa bahwa, yang membedakan manusia dengan makhluk lain, yang membuat manusia lebih unggul dan lebih istimewa dibandingkan dengan makhluk lain, adalah karunia Tuhan berupa peranti akal ini —yang dengannya kita bisa berpikir. Berkali-kali Al-Quran menyeru agar manusia menggunakan akalnya, untuk berpikir, yang dengannya manusia bisa membedakan mana yang batil dan mana yang haq, yang dengannya manusia bisa menemukan kebenaran, yang dengannya manusia bisa membuktikan akan tanda-tanda kebesaran Tuhan sehingga lahirlah berbagai disipilin ilmu pengetahuan. Karena itulah tak ada ilmu yang tak rasional, yang tak masuk akal. Jika ada yang mengatakan sebaliknya, maka patut dipertanyakan kesahihannya sebagai ilmu— datang dari Tuhan atau setan?
Dengan penggambaran seperti itu, jika kita merendahkan akal kita sendiri, berarti kita telah mengabaikan seruan Al-Quran tentang penggunaan akal sebagai peranti berpikir. Setidaknya kita akan tergolong sebagai orang yang malas berpikir radiks, sesuatu yang sebenarnya juga dibenci oleh kitab suci.

Dari sini, seharusnya kita sudah memiliki standar dan prosedur, bahwa ilmu yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis keagamaan, katakanlah seperti madrasah atau pesantren, haruslah rasional, logis, dapat dinalar, dapat dicerna akal sehat. Di luar itu bisa dipastikan “ilmu jadi-jadian”. Pun, cara penyampaian atau pengajarannya juga harus dalam koridor common sense. Di luar itu, pasti “ada apa-apanya”.
Dengan begitu, secara dini kita akan bisa mendeteksi gejala munculnya kasus Mas Bechi dan lain-lainnya di kemudian hari.
