Padahal, kita tahu, Abah, dunia kesenian kadang tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Ada yang datang membawa puisi, pulang membawa kecewa karena tidak dipanggil naik panggung. Ada yang baru membaca dua bait sajak sudah merasa dilupakan sejarah sastra Indonesia. Ada pula yang lebih rajin menghitung ukuran namanya di spanduk daripada jumlah buku yang dibacanya.
Tidak, Abah. Abah bukan jenis manusia seperti itu.

Satu hal yang tidak pernah kami lupakan dari tahun-tahun terakhirmu, Abah. Beni Satria, murid yang Abah sayangi sekaligus sering membuatmu mengelus dada, pernah bercerita bahwa Abah mulai sering lupa jalan pulang. Jalan menuju rumah kadang kabur dari ingatanmu. Nama jalan, tikungan, dan arah pulang sesekali berkhianat pada usia.
Namun anehnya, di saat ingatanmu mulai menipis pada banyak hal, kau justru tidak pernah lupa jalan menuju komunitas-komunitas kecil. Abah tidak pernah lupa menghadiri pembacaan puisi yang penontonnya bisa dihitung dengan jari. Abah tidak pernah lupa datang ke pentas teater yang bahkan wartawan hiburan pun tak tahu keberadaannya. Abah tidak pernah lupa menyemangati anak-anak muda yang masih gagap membaca puisinya sendiri.
Seolah-olah kepalamu boleh lupa arah rumah, tetapi hatimu tetap hafal jalan menuju kebudayaan. Abah yang selalu menyeringai setiap kali diajak berbincang, tampak tak pernah terlalu peduli pada panggung. Barangkali karena Abah tahu, panggung hanyalah papan yang ditinggikan beberapa senti dari tanah, sementara sebagian orang menganggapnya tangga menuju keabadian.
Ya, Abah, kami yang kadang mudah tersinggung jika tak disebut dalam sambutan. Kami yang sesekali merasa dizalimi panitia karena nama kami tertulis setelah tanda koma. Kami yang diam-diam mengukur kadar penghormatan dari panjangnya waktu diberi mikrofon.
Sedangkan Abah tetap tenang. Tidak kebakaran jenggot ketika tidak diberi panggung. Tidak patah hati ketika tidak diminta membaca puisi. Tidak merasa kiamat kebudayaan hanya karena tidak kebagian kursi baris depan.
Mungkin karena sejak lama Abah sudah memahami sesuatu yang gagal kami pahami: bahwa yang paling penting dalam kesenian bukanlah berdiri di atas panggung, melainkan apa yang tetap hidup setelah lampu panggung dimatikan.
Abah tidak pernah benar-benar cocok menjadi selebritas kebudayaan. Abah lebih suka menjadi pendengar. Abah lebih suka duduk di pinggir gelanggang daripada berdiri di tengah sorotan lampu.
Mungkin karena itulah banyak orang merasa kehilangan ketika engkau pergi. Sebab yang wafat bukan hanya seorang penyair, bukan dramawan, bukan budayawan, tapi yang wafat adalah sebuah cara hidup. Cara hidup yang percaya bahwa kebudayaan tidak lahir dari gedung megah, melainkan dari pertemuan manusia dengan manusia.
Abah Uki,
