Tidak Ada Berkah dalam Kekerasan

Dalam tradisi pesantren sendiri, pendidikan sejatinya dibangun di atas akhlak dan kasih sayang. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pendidik yang mengutamakan kelembutan dalam membimbing umat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kekerasan bukan jalan utama dalam mendidik manusia. Apalagi dalam lingkungan pesantren, tempat para santri datang untuk mencari ilmu dan keberkahan hidup.

Banyak santri sebenarnya tumbuh dalam budaya sungkan yang sangat kuat. Mereka diajarkan untuk hormat kepada guru, taat kepada pengurus, dan menjaga nama baik pesantren. Nilai-nilai tersebut pada dasarnya baik dan menjadi bagian dari adab kesantrian. Namun dalam situasi tertentu, budaya hormat itu dapat membuat korban takut berbicara ketika mengalami kekerasan. Tidak sedikit santri yang memilih diam karena khawatir dianggap pembangkang, tidak tahan dididik, atau bahkan takut kehilangan berkah ilmu jika melapor.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Padahal tidak ada keberkahan dalam pendidikan yang melukai martabat manusia. Ilmu yang diajarkan dengan intimidasi justru berisiko meninggalkan trauma yang panjang. Banyak korban bullying dan kekerasan di asrama akhirnya tumbuh dengan rasa rendah diri, ketakutan sosial, bahkan kehilangan kenyamanan terhadap lingkungan pendidikan agama. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar pelanggaran individu, tetapi budaya yang terlalu lama membiarkan kekerasan dianggap biasa.

Tinggalkan Balasan