Bagi anak rantau, mudik Lebaran merupakan momen istimewa yang selalu dinanti-nantikan. Setelah sekian lama hidup jauh di tanah perantauan, kembali ke kampung halaman terasa seperti jeda paling menenangkan untuk meletakkan segala penat. Bertemu keluarga dan sanak saudara menjadi obat tersendiri yang perlahan menghidupkan kembali sisa-sisa semangat yang hampir padam.
Di Madura, mudik dikenal dengan istilah toron yang berarti turun. Maknanya tidak jauh berbeda dengan mudik pada umumnya, yakni kembali ke kampung halaman. Istilah ini bahkan telah dikenal jauh sebelum abad ke-19, berkaitan dengan sejarah panjang migrasi masyarakat Madura yang telah berlangsung sejak masa sebelum Kerajaan Majapahit.

Jika ada yang mengatakan bahwa di mana-mana kita bisa menemukan orang Madura, pernyataan itu tidaklah berlebihan. Di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri, masyarakat Madura dapat dijumpai. Selain untuk keperluan belajar seperti kuliah atau mondok, sebagian besar masyarakat Madura merantau untuk bekerja demi meningkatkan kesejahteraan hidup melalui berbagai mata pencaharian di tanah orang.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004, bahwa di tahun 2000, suku Madura di seluruh Indonesia mencapai 6.771.727 jiwa. Dengan presentase Jumlah penduduk Madura yang berada di Pulau Madura hanya di angka 3.230.300 jiwa. Hal ini berarti 50 persen orang Madura merantau ke luar pulau Madura.
Jika dilihat lebih dekat, menurut hasil sensus penduduk tahun 2020, populasi suku Madura di Indonesia meningkat mencapai 7.179.356 jiwa atau sekitar 3,03% dari total penduduk Indonesia. Dari data Long Form Sensus Penduduk 2020 yang dirilis oleh BPS, penduduk suku Madura di Indonesia sebagian besar tinggal di Pulau Jawa dengan persentase mencapai 92,48%. Sementara 8 persen sisanya tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.
Keberadaan etnis Madura di daerah perantauan mudah sekali dikenali sebagai kaum pekerja keras yang menggeluti berbagai kegiatan ekonomi yang sering dikelompokkan dengan sebutan sektor informal. Karenanya, secara populer, migran Madura seringkali diasosiasikan dengan berbagai label seperti penjual sate, soto, tukang becak, tukang cukur, kuli angkut, kuli bangunan, dan semacamnya.
Namun demikian, terdapat perbedaan yang cukup terasa antara masyarakat Madura yang merantau untuk bekerja dengan mereka yang merantau untuk belajar ketika melakukan toron. Hal ini saya amati, bahkan saya alami sendiri. Orang-orang yang toron karena bekerja seakan memiliki kewajiban tak tertulis untuk menyiapkan oleh-oleh di rumah. Sebab, sanak saudara dan para tetangga biasanya akan datang bertamu menyambut kepulangannya.
Sebaliknya, bagi mereka yang merantau untuk belajar, baik kuliah maupun mondok, biasanya tidak ada tuntutan khusus untuk menyiapkan oleh-oleh. Justru ketika sampai di rumah, merekalah yang lebih sering mendatangi sanak saudara, keluarga, dan kerabat untuk bersilaturahmi.
Perbedaan ini bahkan saya alami sendiri antara saya dan kakak saya yang sama-sama merantau ke Jombang, Jawa Timur, dengan latar belakang yang berbeda. Saya masih berstatus mahasiswa, sedangkan kakak saya sudah bekerja. Ketika bersilaturahmi, saya cukup datang dan bersalaman saja, sementara kakak saya harus repot membawa berbagai oleh-oleh.
Dengan berbagai tujuan masyarakat Madura merantau, pada momen-momen tertentu toron menjadi alasan utama untuk kembali ke tanah kelahiran. Seperti dalam momem Idulfitri menjadi skala terbesar masyarakat Madura di perantauan untuk toron. Dalam skala yang berbeda, termasuk momen hari-hari besar Islam lainnya seperti Idul adha (telasan reraja, telasan ajjih) dan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Tidak banyak yang berbeda terkait aktivitas para perantau Madura saat menjalani tradisi toron ketika kembali ke kampung halaman. Umumnya, mereka mengisi waktu dengan mempererat silaturahmi bersama keluarga dan sanak saudara. Selain itu, mereka juga melakukan nyalase, yakni berziarah ke makam keluarga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tak kalah penting juga acabis, yaitu sowan atau berkunjung kepada para tokoh agama, khususnya kiai atau pesantren yang dahulu menjadi tempat menimba ilmu.
Bagi masyarakat Madura, toron bukan sekadar ekspresi budaya, tetapi juga semacam panggilan sosial agar seseorang tidak melupakan asal-usulnya. Tradisi ini sekaligus menjadi cara untuk nyambung bheleh, menyambung kembali ikatan kekeluargaan dan silaturahmi yang begitu kental dalam kehidupan masyarakat Madura.
