Warisan Epistemologi Tafsir Kiai Basyir

Mengingat pentingnya ilmu tafsir, di lingkup Universitas Annuqayah pun disediakan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT). Di sana, santri diajarkan lebih luas lagi; berbagai kitab tafsir dikaji mulai dari Tafsir At-Thabari hingga Tafsir Al-Manar.

Kami juga dikenalkan dengan metode tafsir bi al-iwayah, tafsir bi al-ra’yi, hingga tafsir muqaran. Bahkan, hermeneutika pun tak luput dari kajian. Santri Annuqayah tidak hanya dituntut mengetahui isi kitab, tetapi juga melakukan penelitian terhadap epistemologi, aliran penulisnya, hingga konteks sosial saat tafsir tersebut disusun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Saat siang hari, saat jam tak lagi jelas menunjukkan pukul berapa, saya merasakan kantuk yang luar biasa. Begitu saya merebahkan tubuh, tiba-tiba dimensi seolah berubah. Saya merasa berada di sebuah majelis pengajian yang hanya dihadiri beberapa orang. Tempat itu terasa sangat akrab: lantai dua Musala Latee.

Namun, yang membuat saya heran adalah sosok yang sedang memberikan pengajian. Beliau berpenampilan serba putih dengan sorban putih yang terikat di kepalanya. Beliau menoleh ke arah saya yang duduk tepat di sebelah kirinya.

“Kalau belajar Al-Qur’an harus menggunakan teosentrisme,” kurang lebih ucapan itulah yang saya ingat.

Tinggalkan Balasan