Bagi kami yang tumbuh di lingkungan pesantren, tafsir bukan sekadar mata pelajaran. Ia adalah ruh. Di sela-sela aroma kertas kitab kuning, nama-nama besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ash-Shawi, hingga yang paling akrab di telinga santri, Tafsir Jalalain, menjadi santapan harian yang membentuk cara kami memandang dunia.
Metodologi penafsiran pun menjadi hal yang sangat fundamental, karena dengannya santri dapat menilai berbagai kitab tafsir yang mereka pelajari. Bukan hanya soal isi, namun juga konstruksi keilmuan yang dibangun dalam tafsir-tafsir tersebut, baik yang klasik maupun kontemporer. Apalagi, paradigma penafsiran terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Santri harus melek terhadap realitas ini. Sebab, tidak jarang berbagai tafsir yang ada mengandung unsur kepentingan kelompok tertentu atau bercampur dengan paradigma Barat. Bukan bermaksud menyalahkan paradigma mereka, namun sebagai bahan refleksi bahwa setiap kitab tafsir memiliki epistemologinya tersendiri. Santri perlu mengetahuinya agar bisa memilih mana yang sesuai dengan tradisi keilmuan mereka.
Saya pribadi, sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Sumenep, Madura, sejak awal nyantri sering mendengar cerita-cerita tentang kealiman almaghfurlah KH Ahmad Basyir AS dalam ilmu tafsir. Sebagai bukti, beliau menghasilkan sebuah karya berjudul Kitab At-Tafsir yang terdiri dari dua jilid.
Padahal, menurut cerita para senior dan salah satu putra beliau, Kiai Basyir hanya mondok sekitar dua setengah atau tiga tahun saja. Namun, kedalaman ilmu beliau—terutama dalam tafsir—sangatlah luar biasa. Sayangnya, saya tidak sempat belajar langsung atau bertemu beliau, karena Allah sudah lebih dulu memanggil Kiai ke sisi-Nya. Allahummaghfirlahu.
Di Annuqayah, kami diajarkan kitab Tafsir Jalalain serta Al-Qawaid Al-Asasiyah fi ‘Ulumil Qur’an karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Kami tidak hanya diajak menyelami isi kitab tafsir, tetapi juga mengenal keilmuan yang membangunnya, salah satunya Ulumul Qur’an yang termuat dalam kitab Qawaid Asasiyah tersebut.
