Tak salah lagi, beliau adalah Kiai Basyir yang sekitar delapan tahun lalu telah wafat. Saya begitu yakin itu adalah beliau meski saya belum pernah berjumpa secara lahiriah. Dengan air mata yang mulai berlinang, saya terbangun sembari terus mengingat peristiwa langka tersebut.
Satu kata yang tertanam kuat di otak saya: Teosentrisme. Sejujurnya, saya belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Saya pun mencoba menelusurinya di Internet. Di sana disebutkan bahwa teosentrisme adalah pandangan yang menjadikan Tuhan sebagai pusat dari segala sesuatu, termasuk sumber tertinggi moralitas, nilai, dan tujuan hidup. Dalam konteks tafsir, teosentrisme merujuk pada pendekatan yang menjadikan teks suci dan kehendak Tuhan sebagai satu-satunya otoritas kebenaran yang mutlak dan final.

Saya kemudian mencoba mengorelasikan pandangan ini dengan karya beliau, Kitab At-Tafsir. Dalam tesisnya yang berjudul “Epistemologi Kitab At-Tafsir Karya KH Ahmad Basyir AS”, Faishal Khair memberikan gambaran tentang bagaimana epistemologi dalam tafsir ini. Meski tidak disebutkan secara eksplisit sebagai “teosentrisme”, namun karakteristik, corak, dan metodologinya sangat kental dengan pendekatan tersebut.
Salah satunya adalah penekanan penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama. Misalnya, saat beliau menjelaskan hukum bagi pezina yang masih perawan dalam Surah Al-Isra’ ayat 32. Beliau menggunakan ayat lain, yaitu Surah An-Nur ayat 2, yang menjelaskan bahwa pezina perawan harus didera seratus kali. Tentunya masih banyak karakteristik teosentris lainnya dalam tafsir Kiai Basyir yang tidak bisa saya jelaskan secara menyeluruh di sini.
Hubungan antara kiai dan santri adalah ikatan yang sakral. Koneksi keduanya akan tetap terjalin selama santri menjalankan nilai-nilai yang diwariskan oleh kiainya, bahkan meski raga sang kiai telah tiada. Kiai Basyir, dengan warisan tafsirnya, akan senantiasa “hidup” di setiap sudut ruang Annuqayah Latee.
Benarlah kata Imam Syafi’i: “Banyak orang yang telah mati, namun kebaikan dan ilmunya tidaklah mati. Dan banyak orang yang fisiknya masih hidup, namun sejatinya di tengah manusia mereka telah mati karena tidak memberikan manfaat.”
