Bulan di Sela Rumah

“Dua?”

“Itu, dan ini,” telunjuk keduanya mengarah pada Mika.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bohong jika gadis SMA kelas akhir itu tak tersipu. Namun dia menahannya sekuat mungkin. Lalu cepat-cepat mengambil daun jendela yang terbuka dan menutupnya. Sebelum itu, dia menitip pesan pada Castro, “Dasar Castro bodoh,” katanya. Namun di baliknya, gadis itu mengambrukkan badan ke tempat tidur dengan senyum manis di bibirnya.

Pemuda itu sangat suka di sana. Hampir tiap malam sebelum tidur dia menyempatkan lewat di samping jendela kamarnya, lalu berdiam di sana. Jendela kamarnya dan milik Mika bersebrangan. Tapi tak berhadapan. Pemuda itu kali ini ingin membuat cerita tentang rembulan. Itu ingin dia persembahkan pada objek luar angkasa yang telah setia mendampingi Bumi itu selama berjuta tahun lamanya.

Namun, baru kali ini dia bingung membuat sebuah jalan cerita. Mungkin karena beban penghormatannya pada sang rembulan. Terlebih dia harus mencari tahu lebih mendalam lagi tentang satu-satunya satelit alami Bumi itu. Dalam lamunannya, kadang ia berpikir, bukankah bulan terlalu setia pada Bumi. Sebagai pengatur pasang surut air laut, sebagai pengatur ekosistem, dan bahkan dalam mitos cahaya bulan bisa membuat buah-buahan semakin manis karena ranum di pohonnya.

Tapi Castro mengulang pikirannya. Bukankah bulan tak bisa bersinar sendiri. Dia hanya cermin, tak lebih. Meski kadang dia harus muncul dalam bentuk lain. Sabit, setengah lingkar, cembung, dan sempurna. Tapi Castro berpikir bahwa tetap dia yang paling setia. Meski kadang ada kadang tidak. Tapi bagi ibu Bumi, dia tetap yang paling utama.

Sedang rivalnya? Ah, bukan. Lebih tepatnya partnernya, sang baskara. Castro pikir dia menjadi kunci di mana para tumbuhan bisa berbuah. Sepertinya dia memang cocok dengan itu. Dia mirip seseorang, orang yang memberi pesan terakhir untuk menjaga ayahnya. Tapi sudahlah, di lain waktu mungkin dia akan membuat cerita tentangnya sendiri.

Jam di pojok gawainya sudah membentuk lengkungan seperti angsa. Saatnya Castro kembali ke ranjangnya. Meski dengan badan yang sedikit remuk redam dan goresan di beberapa bagian. Di malam selanjutnya, setelah menyiapkan makan malam, dia kembali ke sela rumah sampingnya.

“Castro!”

“Apa?”

“Tumben langsung jawab.”

“Eh, kamu mau ngapain!?” sebelah kaki gadis itu sudah terjulur keluar.

“Ke kamu.”

Castro hanya membiarkan Mika melakukan sesukanya. Dia tahu bahwa gadis itu adalah orang yang paling tak bisa dihentikan.

“Adu-duh. Hei sakit,” padahal Mika hanya menyandarkan punggungnya pada Castro.

“Kenapa?”

Tinggalkan Balasan