Bulan di Sela Rumah

“Enggak, gak jadi.”

“Lihat punggungmu,” tatapan gadis itu mulai memburu mata Castro.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Lihat, atau kupukul biar lebih sakit.”

“Eh jangan! Oke-oke.”

Antara kaget dan biasa. Mika harus kembali melihat kulit yang membiru itu.

“Lagi?” kata Mika.

Castro hanya menunduk khusyu pada tab-nya. Dia sedang meneruskan cerita tentang purnama yang kemarin belum selesai. Mika berlari masuk lewat pintu depan rumahnya. Kembali dengan kotak obat bertuliskan P3K.

“Kenapa tak pergi saja? Cari pekerjaan di luar. Cari kebahagian di luar.”

Entah, sudah berapa kali Mika mengingatkannya. Mengejarnya dengan pertanyaan dan pernyataan yang hampir sama. Dan setiap kali itu terjadi, Castro tak bisa menjawabnya. Ada tanggung jawab yang dipikulnya.

“Ih, adu-duh,” Castro meringis perih.

“Sudah tahan aja, siapa suruh dikasih tahu ngeyel,” jawab mika culas.

Sebenarnya ada dua hal yang membuatnya tak bisa meninggalkan tempat ini. Castro akhirnya tahu, dia ingin menjadi bulan bagi ayahnya. Menyampaikan kehangatan ibunya yang telah tiada. Sampai kapan pun dia tahu, bahwa cahaya paling dirindu ayahnya hanya dari satu wanita pujaannya, yang telah dipanggil Tuhan setahun lalu lewat tidurnya yang mendadak. Pukulan keras itu yang tak bisa diterima lelaki berusia senja itu. Dan pelampiasannya pada alkohol menjadi salah satu jalan singkat. Entah untuk menyusul kekasihnya, atau melayangkan pukulan ke badan Castro.

Selesai diobati Mika, pemuda itu langsung berdiri. menurunkan kembali kausnya seraya berucap terima kasih. Dia bersiap melewati lubang jendela menuju kamarnya. “Lalu?” kata-kata itu menghentikan tubuhnya sejenak. Dia kembali menoleh ke arah Mika.

“Yang alasan kedua apa?”

“Dasar bodoh,” ucapnya membuat Mika kebingungan.

“Memang ada yang lebih membahagiakan daripada diperhatikan orang yang disukai. Selamat malam purnama.”

Tinggalkan Balasan