INDEKS DUKACITA

MENGHAYATI MASA LALU

Berjingkat kakimu keluar dari kubangan
Yang dulu mensucikan itu, sembari
Kau siapkan diri keluar dari kata
Yang tersembunyi dalam sebuah

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Amsal. Dan, keyakinan (barangkali)
Masih terpancang padamu. Di bekas
Jantung bahasa yang dulu kau takzimi
Seperti keringat selepas lelahmu dulu.

Sewaktu itu kau gulungkan demikian
Riwayat dalam bekal sebuah perjalanan.
Katamu ini kemungkinan akan perlu.

Nampaknya, kini aku-kau menjadi kita:
Saling menjelma dari harapan—sedari
Yang samar. Dan memulai berani
Menafsir sesuatu yang liar sekalipun.

Surabaya, 2026.

INDEKS DUKACITA

Barangkali sedikit catatan yang dikumpulkan
Setiap sunyi hatimu dalam sebuah nyanyian.

Kepada garis waktu yang melingkari lehermu
Ruh doa itu dengan sayup memanggilmu pulang.

Serupa pendar wangi yang mendatangimu di
Suatu malam, Ia mendatangkan sekilas cahaya.

Menatapmu dari kilau lanskap yang dulunya
Terbangun dari keping-keping silau silam waktu.

Di dekat sekitar urat gahar hidupmu adalah
Terurai pijak dan jejak yang terbangun dari sirah.

Ketika kau menancapkan sebilah keyakinan
Di atas tanah yang membesarkan keraguanmu.

Sebentuk penerimaan semacam bahasa tabah
Yang menumbuhkan bebungaan jauh di luar musim.

Lalu semakin perjalanan ini, semua menyerupai
Rampung dalam dukacita di ruang diri yang lain.

Dirimu, mungkin gemetar dari sebuah kehendak
Segala nama yang diturunkan sebagai wahyu.

Ada desir yang melubangi suwung dalam dirimu
Mengubur setiap kepedihan dan kesedihan itu.

Sementara, cinta ini setia mencatat setiap gigil
Dan menaklukan dosa pada dada yang retak.

Surabaya, 2026.

KAU NAMAKAN INI SEBUAH SYUKUR
Khariri Firdaus

Silam waktu adalah jendela yang
Membuka mataku menyusuri
Beribu jawaban. Semacam masih
Rahasia, kau pun sering berkata,

“Hidup berkisar pada rasa syukur.”

Membuka sedikit waktu-waktu
Di telapak tanganmu dengan
Segenap semoga. Berkunjung
Ke tubuhmu melampaui perjalanan
Dan memampirkan sebuah sempat.

Lalu keraguan melintang dalam
tumpukan bantal. Mengabarkan
Sisa tenaga yang amat terbatas

Bagi manusia semacam kita.

Surabaya, 2026.

BERSANDAR PADA WAKTU

Sepotong doa terparkir
bersandar pada waktu
berpendar di bawah
terik lampu berdinding putih

Ketakutan di belakang manusia
seperti bayang-bayang
Seperti ruang tunggu yang
memanjang antrean, yang sibuk
dengan angka— tentu kita
disibukkan dengan hitungan

Sebagaimana malam
siang seperti terbungkus
Ruangan berjejal cemas
harapan, separo ingatan
mulai mengarungi aliran tubuh
yang larung.

Pada usia, manusia mengalah
ampun ketika seorang dengan jas-jas putih
berdatang: membongkar waktu kita

Solo, 2025.

SERUAN

Sejak kau titipkan gairah itu
DiriMu selalu berseru di dalamku

“Cinta serupa munajat”

Daun makrifat gugur pada
Senja yang berwarna jingga
Kau tepat pada sekian alfa
Pada hati yang bersimbah

Nafsu angkara. Menyimpan
Derap gelisah dan disana
Aku temukan ketersesatan

Sebelum Kau beri pesan
Betapa
pun penderitaan
dan kekosongan
dan kehampaan

Yang aku ketahui kedalaman itu
: Cinta merujuk pada nama-Mu

Surabaya, 2025-2026.

Tinggalkan Balasan