Muktamar NU: Antara Sistem dan Sinten

Kaidah ini tidak hanya berlaku dalam pemerintahan. Ia juga menjadi etika kepemimpinan organisasi. Ukuran keberhasilan seorang pemimpin NU bukanlah seberapa besar pengaruh yang dimilikinya, melainkan seberapa besar kemaslahatan yang mampu dihadirkan melalui kebijakan-kebijakannya.

Dari Tambak Beras untuk Peradaban Dunia

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak berlebihan jika Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, diharapkan melahirkan lebih dari sekadar pemimpin baru. Jombang bukan hanya titik geografis penyelenggaraan Muktamar. Ia adalah salah satu simpul sejarah pesantren Nusantara, tempat nilai keilmuan, kebangsaan, dan keislaman tumbuh dalam satu tarikan napas.

Dari tempat yang sarat sejarah itu, warga NU tentu berharap lahir keputusan-keputusan yang melampaui kepentingan internal organisasi.

Keputusan yang menguatkan ukhuwah, merawat kebinekaan, memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia, membela kelompok-kelompok yang lemah, menghadirkan pandangan Islam terhadap tantangan global, sekaligus menjaga NU tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi para santri dan seluruh warga bangsa.

Kelak, sejarah mungkin akan mencatat siapa yang terpilih sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Namun, sejarah juga akan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting: warisan apa yang ditinggalkan oleh Muktamar ini?

Apakah ia hanya menghasilkan pergantian kepemimpinan, atau benar-benar menjadi titik tolak pembaruan organisasi?

Apakah ia hanya melahirkan pemenang, atau juga melahirkan gagasan besar yang menerangi perjalanan umat?

Apakah ia hanya selesai ketika palu sidang diketukkan, atau justru mulai bekerja setelah seluruh peserta kembali ke daerah masing-masing?

Di situlah sesungguhnya kualitas sebuah muktamar diuji.

Akhirnya, pertanyaan “sinten?” memang akan selalu hadir menjelang Muktamar. Itu bagian dari dinamika demokrasi dalam tradisi musyawarah NU. Namun, kecintaan kepada Nahdlatul Ulama tidak boleh berhenti pada dukungan terhadap tokoh. Kecintaan itu harus diwujudkan dalam kesediaan menjaga sistem, menguatkan tradisi keilmuan, merawat akhlak berorganisasi, dan mengawal keputusan-keputusan Muktamar agar benar-benar menjadi jalan kemaslahatan.

Sebab jabatan hanyalah amanah yang dibatasi oleh waktu. Nama-nama pemimpin akan berganti seiring datangnya generasi baru. Akan tetapi, NU akan tetap besar apabila mampu mewariskan sistem yang sehat, tradisi yang hidup, dan cita-cita yang melampaui kepentingan siapa pun.

Barangkali itulah makna terdalam dari Muktamar. Bukan semata memilih sinten yang akan memimpin, melainkan memastikan sistem yang akan menjaga Nahdlatul Ulama tetap menjadi penjaga agama (irāsat ad-dīn), perekat bangsa (iyānat al-waan), dan penebar rahmat bagi peradaban dunia.

Tinggalkan Balasan