NU Bukan Milik Pemenang

Kita merindukan elite NU yang tetap dekat dengan rakyat kecil. Yang hadir di tengah petani ketika panen gagal. Yang mendampingi guru ngaji tanpa panggung. Yang membela kaum lemah ketika hak-haknya diabaikan. Yang berani mengingatkan penguasa ketika kebijakannya melukai rakyat, sekaligus tetap menjaga keutuhan bangsa dengan penuh tanggung jawab.

Pemimpin seperti itulah yang akan membuat NU selalu ṣāliḥ li kulli zamān wa makān—mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi dan keberpihakannya kepada umat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

NU Milik Kita Semua

Pada akhirnya, Muktamar akan selesai. Nama-nama yang hari ini ramai diperbincangkan suatu saat akan menjadi bagian dari sejarah. Tidak ada kepemimpinan yang abadi. Semua akan berganti.

Tetapi NU tidak boleh ikut berganti jati dirinya. NU bukan milik siapa yang menang dalam Muktamar. NU juga bukan milik kelompok yang paling kuat, paling berpengaruh, atau paling pandai menyusun strategi. NU adalah milik para kiai yang mengajarkan keikhlasan, milik para santri yang setia berkhidmah, milik para guru ngaji di kampung-kampung, milik para ibu yang setiap malam melangitkan doa untuk keselamatan bangsa, dan milik jutaan nahdliyin yang menjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan penuh kesabaran.

Saya menulis ini bukan sebagai orang yang merasa paling tahu. Saya bukan siapa-siapa. Mungkin tulisan ini tidak akan mengubah apa pun. Mungkin juga tidak akan sampai kepada mereka yang sedang memikul amanah besar itu.

Namun bukankah mencintai juga berarti berani berharap?

Saya hanya berharap, menjelang Muktamar ke-35, kita semua kembali mengingat bahwa yang sedang kita jaga bukan sekadar proses pemilihan, melainkan marwah sebuah jam’iyah yang telah diwariskan dengan air mata, doa, dan pengorbanan para muassis dan muharriknya.

Semoga siapa pun yang kelak memimpin NU benar-benar memikul amanah dengan hati yang lapang nan ikhlas; cerdas tetapi tidak culas, berpengaruh tetapi tetap membumi, dekat dengan kekuasaan tetapi tidak menjauh dari rakyat, serta teguh menjadikan khidmah sebagai tujuan, bukan sekadar jalan menuju tujuan yang lain.

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar di Nahdlatul Ulama bukanlah ketika seseorang berhasil menjadi pemimpin. Kemenangan terbesar adalah ketika siapa pun yang terpilih tetap mampu membuat seluruh warga NU merasa bahwa rumah ini adalah milik bersama.

NU memang membutuhkan pemimpin. Tetapi lebih dari itu, NU membutuhkan orang-orang yang tetap mencintainya, bahkan ketika mereka tidak menjadi apa-apa. Di situlah, barangkali, letak keberkahan sebuah khidmah.

One Reply to “NU Bukan Milik Pemenang”

Tinggalkan Balasan