Toron, Tradisi Mudik Masyarakat Madura

Perbedaan ini bahkan saya alami sendiri antara saya dan kakak saya yang sama-sama merantau ke Jombang, Jawa Timur, dengan latar belakang yang berbeda. Saya masih berstatus mahasiswa, sedangkan kakak saya sudah bekerja. Ketika bersilaturahmi, saya cukup datang dan bersalaman saja, sementara kakak saya harus repot membawa berbagai oleh-oleh.

Dengan berbagai tujuan masyarakat Madura merantau, pada momen-momen tertentu toron menjadi alasan utama untuk kembali ke tanah kelahiran. Seperti dalam momem Idulfitri menjadi skala terbesar masyarakat Madura di perantauan untuk toron. Dalam skala yang berbeda, termasuk momen hari-hari besar Islam lainnya seperti Idul adha (telasan reraja, telasan ajjih) dan Maulud Nabi Muhammad SAW.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak banyak yang berbeda terkait aktivitas para perantau Madura saat menjalani tradisi toron ketika kembali ke kampung halaman. Umumnya, mereka mengisi waktu dengan mempererat silaturahmi bersama keluarga dan sanak saudara. Selain itu, mereka juga melakukan nyalase, yakni berziarah ke makam keluarga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tak kalah penting juga acabis, yaitu sowan atau berkunjung kepada para tokoh agama, khususnya kiai atau pesantren yang dahulu menjadi tempat menimba ilmu.

Bagi masyarakat Madura, toron bukan sekadar ekspresi budaya, tetapi juga semacam panggilan sosial agar seseorang tidak melupakan asal-usulnya. Tradisi ini sekaligus menjadi cara untuk nyambung bheleh, menyambung kembali ikatan kekeluargaan dan silaturahmi yang begitu kental dalam kehidupan masyarakat Madura.

Tinggalkan Balasan