Toron, Tradisi Mudik Masyarakat Madura

Jika dilihat lebih dekat, menurut hasil sensus penduduk tahun 2020, populasi suku Madura di Indonesia meningkat mencapai 7.179.356 jiwa atau sekitar 3,03% dari total penduduk Indonesia. Dari data Long Form Sensus Penduduk 2020 yang dirilis oleh BPS, penduduk  suku Madura di Indonesia sebagian besar tinggal di Pulau Jawa  dengan persentase mencapai 92,48%. Sementara 8 persen sisanya tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Keberadaan etnis Madura di daerah perantauan mudah sekali dikenali sebagai kaum pekerja keras yang menggeluti berbagai kegiatan ekonomi yang sering dikelompokkan dengan sebutan sektor informal. Karenanya, secara populer, migran Madura seringkali diasosiasikan dengan berbagai label seperti penjual sate, soto, tukang becak, tukang cukur, kuli angkut, kuli bangunan, dan semacamnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun demikian, terdapat perbedaan yang cukup terasa antara masyarakat Madura yang merantau untuk bekerja dengan mereka yang merantau untuk belajar ketika melakukan toron. Hal ini saya amati, bahkan saya alami sendiri. Orang-orang yang toron karena bekerja seakan memiliki kewajiban tak tertulis untuk menyiapkan oleh-oleh di rumah. Sebab, sanak saudara dan para tetangga biasanya akan datang bertamu menyambut kepulangannya.

Sebaliknya, bagi mereka yang merantau untuk belajar, baik kuliah maupun mondok, biasanya tidak ada tuntutan khusus untuk menyiapkan oleh-oleh. Justru ketika sampai di rumah, merekalah yang lebih sering mendatangi sanak saudara, keluarga, dan kerabat untuk bersilaturahmi.

Tinggalkan Balasan