“Sepertinya kita harus cari tempat lain,” balas istri ayah, sambil hendak beranjak
“Apa tidak ada tempat yang bisa kami gunakan? Kami keluargamu, Mona,” kata ayah seperti memohon.

“Seharusnya Ayah pesan dahulu, di sini biasanya pakai reservasi, terutama di bulan Ramadan,” balasku hati-hati.
“Tidak apa-apa, ayo kita pergi ke tempat lain,” ujar wanita itu mendesak ayah. Kedua saudara tiri hanya saling pandang, lalu beranjak pergi tanpa berbicara. Ayah tampak kecewa. Saat hendak pergi, langkah mereka terhenti oleh panggilan dari Mbak Dila, pemilik restoran tempatku bekerja.
“Mari berbuka bersama di ruang khusus,” Mbak Dila memberi tawaran.
Aku hendak mencegah, tapi Mbak Dila bersikukuh. Ayah menerima tawaran dengan canggung. Aku pun dipaksa Mbak Dila untuk ikut.
“Aku ingin berbuka di tempat biasa,” ujarku menuju dapur, tempat para staf berkumpul.
“Hanya untuk hari ini, momen Ramadan, tahan amarah, tolong runtuhkan egomu untuk hari ini. Ayahmu tadi menghubungiku, katanya jika tak begitu, ia tak bisa bicara denganmu. Lakukan demi ayahmu, itu saja, kesampingkan hal lain,” Mbak Dila membujuk.
Aku diam beberapa saat. Mbak Dila adalah anak sahabat ayah. Ia juga tahu bagaimana kisahku sejak kecil. Ia juga tempat bercerita, sudah seperti saudara sendiri.
